• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 346,140 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Infrastruktur Manusia yang disebut Ayah

Bunyi gemericik air benar-benar hiburan hati yang memberikan rasa nyaman.iqbalsufi-ayah Apalagi jika dibarengi dengan sebuah diskusi bersama Tuan Sufi yang sedang kulakukan ini. Aku memang sedang butuh informasi mengenai klasifikasi seorang ayah yang baik, sebab sebagai seorang calon ayah, tentu aku mesti mempersiapkan diri agar dapat siap dan masuk ke kategori ayah yang baik kelak. Walaupun entah kapan.

Tuan Sufi senyum-senyum saja ketika kuutarakan topik diskusi ini. Entah apa makna senyumnya itu, tapi sebagai seorang sahabatnya yang mengerti sekali detail ketertarikan Tuan Sufi terhadap suatu masalah, kulihat kilauan hijau zamrud di sudut tatapannya yang tajam tapi teduh itu.

Sambil berdiri mengamati air mengalir, Tuan Sufi mulai bicara; Seorang laki-laki memang tidak begitu saja menjadi ‘laki-laki’. Dia mesti berusaha keras untuk mencapai predikatnya itu. Kalau belum sama sekali ia memperhatikan metode pencapaian ke’lelaki’annya tersebut, dia hanyalah seorang anak kecil yang manja kepada kedua orang tuanya, yang sangat tidak bisa diharapkan eksitensi fungsionalitasnya.

Rasulallah menyatakan, bahwa dalam masa-masa pertumbuhannya, seorang anak laki-laki mesti diajari tiga hal, yaitu berkuda, memanah dan berenang. Berkuda berkaitan dengan kemampuan manajemen untuk mengelola sistem lain untuk dapat mencapai suatu tujuan (goal) tertentu. Keterampilan mengendarai adalah jaminan bahwa diantara penunggang dengan kudanya telah tercapai suatu tingkat kemakluman satu sama lain, sehingga terjadi keterpaduan yang baik. Kalau sudah begini berarti kuda dapat kita pacu sekehendak hati kita, terkait dengan peningkatan kemampuan manajemen waktu dan kecepatan pencapaian tujuan.

Memanah tentu berkaitan dengan akurasi penentuan pilihan sasaran. Mendidik seorang anak untuk dapat berkonsentrasi dengan baik terhadap apa-apa yang mesti diperjuangkannya, serta untuk melatih kemampuan forecasting (memprediksi kemungkinan masa yang akan datang). Seorang laki-laki mesti dapat menghitung dengan baik dengan data-data yang dimilikinya untuk mempertahankan segala yang ada di bawah kepemimpinannya agar selalu berada dalam keadaan yang terkendali dengan baik. Jika busur sudah terentang dan anak panah telah dilepaskan, maka sudah semestinya sasaran hewan buruan tidak akan bisa kemana-mana lagi.

Berenang berarti seorang laki-laki harus dipersiapkan untuk selalu mengimbang dari berbagai tekanan yang datang padanya. Ia tidak boleh terlalu kaku, ataupun sebaliknya, terlalu lentur, agar selalu dapat ‘mengambang’ dengan baik. Seorang laki-laki pun dengan kemampuan ini dituntut untuk memiliki stamina yang sangat baik, sebab berenang tidak hanya statis di tempat tapi juga melaju ke suatu arah dengan kondisi terombang-ambing gelombang kehidupan yang sangat deras. Sedikit saja lengah berarti ia kehilangan puluhan derajat dari arah tujuannya semula. Dengan berenang juga seorang lelaki sudah semestinya punya kemampuan membaca arah serta memprediksi jarak dengan baik, mampu membaca tanda-tanda arus air, sehingga tidak terseret jauh ke tempat-tempat yang tidak jelas.

Dengan berbagai sifat dasar yang dianugerahkan kepadanya, seorang laki-laki mesti menjadi tiang pancang yang kokoh sebagai peletak dasar yang kuat, pondasi dari infrastruktur sebuah keluarga yang matang. Ia pun mesti dapat mencari nafkah dengan baik, selain menjadi perekat yang erat keluarganya. Selain itu, seorang laki-laki mesti terkait dengan rencana besar Allah dan tidak hanya menjadi penonton statis skenario Ilahiyyah di bumi ini. Ia harus punya ghirah (semangat) jihad menegakkan kalimah-kalimah Allah sebagai pendakwah-pendakwah yang handal yang sanggup hidup di berbagai kondisi, di berbagai susunan masyarakat, dan di berbagai suasana dengan kemampuan adaptasi yang baik sekali, bahkan sambil menyebarkan hawa ketentraman sebagai bagian dari ummat rahmatan lil Alamin dengan perilaku yang dapat dijadikan teladan bagi keluarga serta masyarakatnya.

Seorang lelaki mesti mampu menciptakan metode pendidikan anak – istri serta masyarakatnya sebagai pemegang kendali keutuhan di lingkungannya. Ia tidak hanya bisa mengoreksi orang lain, tetapi juga mengoreksi ke dalam jiwanya sendiri dan istiqomah menjalankan apa yang sudah dipahaminya dengan baik, memiliki sifat tegas dan kesatria serta tenang dan memiliki kendali emosi yang baik, tidak mudah berkeluh kesah apalagi cepat menyerah sehingga tidak lagi punya prinsip untuk mudah melakukan segala cara demi tercapainya tujuannya atau sekedar mempertahankan eksistensinya.

Seorang laki-laki sejati melihat dan mendengar dengan akalnya, dengan cepat ia dapat membaca situasi dan segera mengambil sikap terhadap segala perubahan-perubahan dalam kehidupan sesuai dengan prinsip yang dibenarkan oleh tuntunan Allah SWT. Dengan tegar ia berani membela prinsipnya, dan cepat bereaksi positif jika mengalami suatu kejadian yang membentur prinsipnya. Ia bisa nampak sebagai orang yang lugu, tapi tidak bodoh. Keluguannya keluar dari nurani keikhlasannya menghadapi segala sesuatu.

Seorang lelaki pun di saat-saat lemahnya, ia sabar, ia tidak mengeluh, hanya diam mengisi energi, menghemat tenaga. Di saat berkuasanya, ia juga sabar untuk tidak meninggikan hatinya., menyuruh dengan memberikan kehormatan, serta tidak ragu dalam memberikan penghargaan. Ia juga punya rasa humor yang baik, tapi bukan pelawak. Baginya, kelucuan adalah salah satu metode dakwah untuk mudah menasihati sebagian orang. Seorang laki-laki pun harus berani menampakkan identitasnya dengan jelas, ia selalu punya kharisma ekslusif yang berbeda, memiliki tanda-tanda yang jelas yang mudah diketahui oleh orang banyak. Ia pun mesti tawadhu, membiasakan hidup dalam kesederhanaan, tetap belajar dan menyelami segala sesuatu sampai ke akar-akarnya.

Kesemuanya di atas adalah hasil sebuah penempaan yang terus menerus dari sebuah keluarga yang baik, sehingga seorang anak laki-laki menjadi siap menjadi seorang ayah yang baik. Penempaan terbaik adalah keteladanan, maka oleh sebab itu seorang anak harus diperlihatkan perilaku yang terpuji dari kedua orang tuanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: