• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 314,667 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

DIALOG TIGA SUBSTANSI KEHIDUPAN TENTANG CINTA

Prolog :
Perasaan universal ini sudah datang.Bersama angin yang berhembus.Diiringi tatapan bermakna.Tak kukira, justru melalui media panca indera.Jadi benar juga pepatah lama itu Apa yang disebut ;Dari mata turun ke hati.

Di kejauhan awalnya kulihat seorang Tuan Sufi duduk di Pendoponya. iqbalsufi-burungAh, ini suasana biasa. Setiap hari, menjelang matahari terbit, Tuan Sufi memang selalu duduk terpekur di situ. Tiba-tiba saja sekilas kulihat kilatan hijau dari bola mata Tuan Sufi, aku tak tahu, kilauan itu kok melesat cepat sekali menembus bola mataku sendiri.Aku terhenyak, kukira aku kelilipan sesuatu. Semenjak itulah kulihat di pendopo itu tidak hanya Tuan Sufi seorang. Perlahan dari tubuh Tuan Sufi muncul dua sosok tak kukenal.

Masya Allah, aku ini mimpi atau apa, ya ? Aku nggak mau sebenarnya menceritakan hal ini, karena aku takut ceritaku akan menjurus ke arah yang ngelantur dalam mengartikan keajaiban-keajaiban di dunia, seperti di komik-komik silat atau film-film KungFu di S tasiun TV di negeri ini. Soalnya aku ingin apa-apa yang kuceritakan tentang Tuan Sufi sahabatku itu adalah menjadi untaian hikmah-hikmah darinya, sebagai nasehat-nasehat yang bisa diambil manfaatnya untuk peningkatan pengetahuan dan perilaku diriku, dan sekaligus InsyaAllah kita semua.

Tapi kemudian, aku nggak sempat lagi mikir macam-macam. Tiga sosok yang akhirnya tidak dapat kukenali satu pun itu, nampaknya mulai bertukar pikiran. Sayup-sayup kudengar yang mereka perbincangkan adalah tentang rasa cinta. Dialog tentang Kasih sayang. Melebar, sangatlah melebar. Sehingga sepertinya aku pun berada di antara ketiganya turut berdialog bersama mereka.

Stop dulu sebentar !

Catatan tentang Tuan Sufi kali ini benar-benar sangat mendalam.Aku sendiri nggak mau sebenarnya menciptakan latar kondisi yang terlalu mengada-ada. Pemisahan karakter yang ada pada diriku seperti yang kugambarkan di atas bukannya berarti bahwa aku berkepribadian ganda, tapi merupakan coba-cobaku dalam menganalisis suatu masalah yang tidak sederhana seperti masalah Cinta Kasih ini, dengan cara mengan astesikan masalah-masalah tersebut menjadi bentuk-bentuk pengertian kecil dari berbagai cara pandangku terhadap masalah-masalah itu.

Disini aku menunjukkan sikapku bahwa aku ingin keadilan bagi diriku sendiri, soalnya terkadang perasaan-perasaan yang ada terpendam yang sangat kompleks itu suka memaksakan pengertian-pengertiannya sendiri dengan melupakan ratusan titik pandang kita yang lainnya. Akhirnya kutarik kesimpulan bahwa kita akan sangat tidak obyektif kalau yang berfikir dan mencari jalan adalah hati kita, bukan fikiran kita.

Dengan cara pemisahan karakter ini, aku paksa diriku sendiri, untuk mendayagunakan fikiranku dengan fungsi yang sesungguhnya, karena pengalaman-pengalaman selama ini rupanya hanya membentuk perasaan yang terlalu menguasai segalanya. Meskipun begitu, Aku jelas tidak akan melupakan hati. Aku cuma mengembalikan hati ke porsi yang sebenarnya, yaitu sebagai yang membenarkan dan menyalahkan langkah-langkah kesimpulan dari pikiranku.

Hati tetap pengambil keputusan bagiku. dan Nurani tetap sebagai tempat bersemayam Malaikat-malaikat penjagaku.

Oke, kita teruskan Tuan Sufi kita.


Orang pertama berbicara :

Cinta adalah hak yang akan menjadi suatu bentuk kewajiban. Kita dibebaskan untuk memiliki rasa ini dengan cara yang bagaimana pun, dan dengan sasaran apapun. Kedatangannya akan menimbulkan rasa tanggungjawab baru, yang akhirnya akan mengurutkan kewajiban-kewajiban tertentu yang harus kita lakukan demi terjaganya rasa itu di hati. Cinta jika tidak dikendalikan, secara perlahan-lahan akan menguasai perilaku, karena cinta itu bukan hanya urusan hati saja, melainkan bersinggungan dengan hawa nafsu, yang berarti juga urusan ‘binatang’ yang berada di diri kita. Maka dari itu adalah tugas kita, untuk menjaga agar cinta yang suci berawal dari nurani itu, tidak sampai dikuasai oleh nafsu.

Selain itu, kita harus bisa merencanakan hirarki cinta bagi diri kita sendiri. Kehakikian cinta harus kita buat menjadi tingkatan-tingkatan perioritas tertentu, dengan melakukan pemilahan kepada siapa dan apa sasaran kecintaan itu. Aku akan mencoba membuatkan bagimu sebuah segitiga yang melukiskan hirarki cinta yang hakiki.

Tangan orang pertama itu menunjuk ke batu cadas di tebing jauh. Batunya seperti terpahat sangat cepat, membentuk segitiga dengan angka-angka. Aku makin terkesima.Forum diskusi ini kok dahsyat sekali, ya. Cepat-cepat kugambar ulang untuk saudara-saudaraku yang lain.

Tingkat tertinggi pertama:

Tingkatan cinta tertinggi adalah bagi Allah seru sekalian Alam. Raja Semesta. Suatu Zat yang tidak terdefinisi, sebagai asal rasa cinta kita yang kecil ini. \par Pada Allah-lah sumber segala sumber cinta yang Maha suci. Maka dari itu, mengingatNya harus selalu kita lakukan, perintah-perintahNya harus dijalankan, Larangan-laranganNya harus ditinggalkan.

Metode mencintai pada tingkatan ini adalah dalam bentuk ketundukan dan kepatuhan serta rasa takut tidak bisa memenuhi segala perintahNya.

Tingkat kedua :

Tingkatan mencintai Rasulallah. Cinta kepada junjungan, uswatun hasanah. Cinta kepada seorang laki-laki yang telah membawa kita semua dari kegelapan zaman Jahilliyah ke jalan benderang penuh aturan hidup amat lengkap. Seorang yang membawa Tauladan yang baik dalam kehidupannya sehari-hari. Berakhlak terpuji, berjuluk Al Amin, yang terpercaya.

Metode mencintainya adalah dengan menjadikannya idola kita, mengikuti sunnah-sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari, serta dalam bentuk bershalawat tiada habisnya. bagaikan menuangkan air kepada gelas yang sudah penuh, di atas gelas kecil terbatas satu lag i. Air itu akan tercurah kembali ke gelas kecil itu, dalam bentuk syafaatnya, di suatu masa dimana tidak ada kenikmatan lain lagi selain Naungan Allah SWT dan syafaat Rasulallah SAW.

Tingkat ketiga :

Tingkatan mencintai orang tua. muasal kelahiran kita. Ibu yang sederhana, ayah yang bersahaja. Hanya satu keinginan mereka terhadap kita darah dagingnya ini, yaitu tumbuh sebagai anak yang berbudi, memiliki sikap tegar dan kemampuan sebagai manusia sejati dalam skala Allah Yang Maha Suci. Karena itulah, Kerihaan mereka berdua adalah keridhaan Allah pula. Kesabaran mereka membesarkan kita merupakan suatu jasa yang tak ternilai harganya. Maka dari itu metode mencintai mereka adalah dalam bentuk kepatuhan serta perlindungan terhadap mereka dari segala hal yang menyusahkan, sekalipun itu hanya rasa was was mereka terhadap kita.

Tingkat keempat :

Tingkatan mencintai kaum muslimin wal muslimat. Adalah mencintai masyarakat tempat kita tinggal. Membina ukhuwah, serta hubungan baik agar tercipta kondisi ‘Satu tubuh’, yaitu Masyarakat yang bisa merasakan keadaan pribadi masing-masing anggotanya, masyarakat yang saling menyayangi satu sama lain atas dasar keimanan.

Metode mencintai mereka adalah dengan perhatian tulus, penciptaan rasa aman, kepedulian serta bantuan yang memadai.

Tingkat Kelima :

Tingkatan mencintai diri sendiri. Adalah suatu bentuk ke-mubah -an yang harus mampu tidak kita perlihatkan kemana-mana. Mencintai diri sendiri adalah bentuk egoisme seorang manusia. Cinta ini harus diperturutkan paling akhir dibanding cinta-cinta yang lain disebabkan karena ku antitasnya selalu lebih besar dari bentuk cinta mana pun. Dan lagi cinta ini pun tidak perlu latihan untuk membiasakannya. Ia akan otomatis terlahir bersamaan dengan kelahiran seorang manusia di alam ini.

Mencintai diri sendiri memiliki cakupan yang amat luas. Seluas kreatifitas manusia. Pembebasan semua perasaan serta seluruh kemauan pun, termasuk cinta jenis ini. Mencintai seseorang pun berawal dari cinta pada diri sendiri, karena jelas-jelas dalam hal ini kita memilih sekehendak hati, orang yang bagaimana yang sesuai dengan kita.

Aku sadar sekarang, mengapa tiga sosok itu berdialog soal cinta. Ucapan orang nomor satu itu mulai menjurus ke kondisi seorang manusia yang mulai mencintai sesuatu, dan ia sangat khawatir kehilangan itu.

Aku perlu menyela pembicaraan mereka. Soalnya kalimat terakhir orang pertama tadi kurang kusetujui.

Maaf sosok-sosok, Kalau kita mencintai orang lain, kita nggak boleh bikin patokan sesuai dengan diri kita sendiri, dong. Soalnya orang yang kita hadapi juga punya kemampuan yang sama untuk itu. Kalau masing-masing orang seperti itu, tentu nggak bakalan ketemu satu sama lain perasaannya. Yang benar adalah justru harus bisa memaklumi satu sama lain. bukan mencari orang yang sesuai, tapi mampu nggak kita menyesuaikan diri dengan orang itu.

Orang pertama terdiam. Matanya seperti menyesal. Nampaknya ia sadar, disebabkan rasa cintanya itu, pikirannya tidak panjang lagi. Inilah akibat perasaan yang mengendalikan pikiran. Seteguh apapun keadaan seorang manusia, pasti tergelincir.

Tak lama kemudian, orang kedua berbicara :

Cinta adalah media pembawa perubahan. Karena cinta itu membawa harapan, maka akan selalu ada mengikutinya sebuah kerja keras memenuhi harapan tersebut. Setiap kerja tentu akan menghasilkan sesuatu. Sesuatu inilah yang merupakan sebuah perubahan besar. Maka ambillah cinta itu sebagai penggerak semangatmu, bukan sebagai pengatur langkah-langkahmu. Buatlah cinta sebagai bagian kecil saja dari tujuan jangka pendekmu, bukan sebagai tujuan akhir, agar kelak kau tidak susah payah mendefinisikan ulang kembali tujuanmu pada suatu waktu, ketika rasa cintamu terkontaminasi oleh berbagai hal tak terduga.

Cinta punya resiko. Jika sudah tumbuh rasa itu, sudah jadi kewajiban bagi kita untuk menanggung segalanya. Resiko kegagalan adalah kepahitan, yang akan tetap jadi suatu kepahitan kalau kita tidak mengganggapnya macam-macam. Biasanya justru pada saat resiko itu terpaksa harus ditelan, kita suka mengganggap kepahitan itu sebagai suatu akhir dunia, bahkan panasnya suatu bentuk ‘neraka’. Itu salah besar. Kesalahan paling tidak diperkenankan.

Orang ketiga berbicara :

Cinta adalah suatu ledakan tiada disangka. Ketidakpastian baginya berarti penyiksaan perasaan. Apalagi penolakan, akan menghasilkan penyulutan sumbu ledakan perasaan. Ledakan yang akan menghancurkan, ataupun ledakan yang justru membangun ketahanan traumatik berkepanjangan. Secara individualitas cinta membawa egoisme. Pemenuhan setiap tuntutan perasaan yang ada adalah bermakna HARUS dipenuhi. Tanpa pemenuhan, akan menjadi kegalauan serta pemincangan sikap dan perilaku. Timbullah kepayangan. Situasi seperti mabuk tak berfikiran lagi ini membuat Cinta mampu menimbulkan pemberontakan besar, perlawanan tiada henti bahkan kemarahan tak terbatas. Titik.

Makin jelas maksud mereka berdialog soal cinta.

Tiga sosok ini rupanya sedang mempersiapkan diri menghadapi badai cinta. Mereka mencoba struggle to survive . Penguasaan perasaan oleh cinta tentu akan menggoyahkan kemapanan berdiri mereka bahkan mendoyongkan pijakan kaki mereka. Ketidakmapanan ini yang justru merupakan bagian yang paling mereka khawatirkan. Soalnya mereka sadar, untuk saat ini hanya itulah modal mereka untuk tetap tegar menghadapi berbagai badai yang lainnya.

Mereka sudah pernah menjalani Dunia anti kemapanan. Dunia tanpa kepastian. Dunia bawah tanah, kehidupan tanpa buku harian dan buku-buku rencana. Berani konsekwen pertanda jantannya adalah aksi fisik membabibuta. Dan mereka nggak mau lagi terjebak di dunia seperti itu.

Teman-teman,
akhirnya aku mencoba menyimpulkan hasil dialog itu. Aku sudah tidak mampu lagi mendengar dialog mereka. Sosok-sosok itu menjadi butiran-butiran mutiara yang bercahaya. Terlalu silau bagi mataku. Gemerincing jatuhannya memekakkan telingaku. Terlalu banyak kata-kata yang membingungkan terngiang-ngiang di kepalaku dari dialog-dialog mereka itu.

Kesimpulanku ini tidak pernah kuucapkan dalam forum dialog itu. Ini hanyalah kesan pesanku menimpali kejadian tak kuduga ini.

Cinta yang membawa tanggungjawab akhirnya akan menghasilkan beban. Beban ini tidak ringan, belum lagi ditambah dengan cobaan ketidakcocokan dengan cinta diri sendiri. Tapi dengan hal ini kita jadi lebih lincah menangani hidup, punya semangat tinggi dan menghasilkan ambisi tertentu. Dengan tidak adanya beban ini justru membuat dunia terlalu tenang, dan fitrah manusia bukan hanya membutuhkan ketenangan berkepanjangan saja, perlu lompatan-lompatan jauh yang lepas dari rutinitasnya. Itulah yang membuat hidup berwarna.

Maka dari itu, jangan takut untuk mencintai. Cinta adalah anugerah Ilahi, yang merupakan bentuk cinta kasihNya kepada kita. Saat dia datang, segera bersyukurlah dengan diiringi doa memohon perlindungan.

Kamu-kamu khan udah gede, masa’ ngehadapin cinta aja takut ?

(Catatan Iqbal No. IX/130498)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: