• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 335,902 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Tatapan dari sepasang Mata Bening

iqbalsufi-mataDi perjalanan pagi menuju suatu bentuk pengujian, kutemui pandangan itu. Seorang anak kecil berjilbab, seorang putri bersih suci, matanya bening sekali. Berjalan bersama ibundanya. Segera kusadari, pengujian tertentu yang hendak kujelang itu, nyatanya sudah datang sendiri dengan segala muatan hikmahnya. Kusaksikan jelas sepasang mata bening itu lekat sekali menyaksikan teman sebayanya yang berbaju seadanya, kotor dengan pandangan suram, menuntun seorang ibunya yang tua serta buta meminta sedekah pada setiap orang dikendaraan beroda banyak itu.

Ia bingung, ucapan salam yang dia kenal selama ini adalah doa yang benar-benar mengharap ridho Ilahi agar saudaranya diberi keselamatan. Bukan doa yang m alah meminta suatu perasaan belas kasihan pada saudaranya yang lain.Ia heran juga, kata-kata permintaan yang terucap ibu tua yang buta itu kok sempat terucap berkali-kali, dan itu pun belum ada seorang pun yang peduli memberikan bantuannya. Setahunya, di lingkungan kesehariannya, tidak ada sehuruf pun kata meminta-minta yang sempat terucap, karena jika ada orang yang kesulitan, dengan serta merta tetangga terdekatnya langsung peduli dan segera menolongnya.

Sang Mata Bening itu sayangnya belum dalam posisi berbicara. Pikirannya hanya sebatas pikiran yang belum mengalirkan pemecahan tertentu. Tapi gambaran itu sudah ada dan membekas dalam sekali. Tak mudah dilupakan lagi dalam hidupnya kelak. Yang ada di kepala Sang mata bening adalah berbagai pertanyaan tak terjawabkan ; “Mengapa semua orang di kereta itu seperti nggak peduli lagi, seakan melihat suatu kejadian yang tak pernah ada ?”

(Eh, sebentar. Ada tiga orang yang menjawab Salam ibu buta tadi, serta mengulurkan sejumlah uang ;

  • Yang pertama adalah seorang kakek tua berseragam tentara, mantan Pejuang kemerdekaan negara ini.
  • Yang kedua seorang wanita setengah baya berjilbab, lho, ternyata Ibundaku sendiri ?
  • Yang terakhir adalah seorang bermata tajam tapi teduh. seorang Pemuda berjanggut jarang.

Maaf lho. Si mata bening meralat pikirannya sendiri.Rupanya nggak semua orang disini yang kurang peduli.)

Tuan Sufi terbentur pandangan lugu Sang mata bening. Tatap Tuan Sufi terus menembus mata bening itu memasuki jiwa suci anak kecil itu. Ia segera mengerti, dibalik tatapnya yang bening itu telah timbul sebentuk kegelisahan akibat pusaran pertanyaan yang kurang selaras dengan nuraninya tentang masalah itu tadi. Tuan Sufi maklum. Kalau saja pikiran sang mata bening dapat dipancarkannya ke seluruh jiwa yang ada di kereta pagi ini untuk meneliti relung-relung pertimbangan tiap-tiap jiwa itu. Niscaya tidak akan hadir kegalauan itu.

Tuan Sufi pun tidak mengubah apa-apa selama menyelam di jiwa sang mata bening. Tuan Sufi hanya menaruh segumpal jawaban yang dibungkus rapi dengan plastik kedewasaan, yang Insya Allah nggak akan rusak oleh apa pun, dan hanya akan dapat dibuka oleh sikap k edewasaan itu sendiri. Tuan Sufi berharap, dikala sikap itu tiba di sang mata bening, dapat terlahir pula seorang Tuan Sufiwati yang memahami, bahwa garis merah penilaian terhadap perilaku jiwa-jiwa yang bertebaran di bumi ini, tidak boleh begitu saja ditarik dengan mengacu pada garis kita sendiri. Perlu titik pandang yang lain. Perlu sudut yang tepat.

Tuan Sufi mahfum, pertanyaan lugu sang mata bening tadi, adalah salah satu dari sekian banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlupakan oleh kita yang tenggelam dikesibukan kita sendiri.Pertanyaan yang sudah dianggap tidak berarti lagi karena berbagai macam pertimbangan, yang sebetulnya justru mengkhianati maharaja nuraninya sendiri untuk tidak lagi membuat sebuah ketulusan menjadi patokan bagi titah-titahnya.

Ini juga salah kita sendiri sih, kehidupan yang makin sulit ngebuat orang-orang menyiasati cara bertahan hidupnya dengan metode-metode yang kadangkala nggak sesuai dengan yang digariskan. Sialnya lagi, metode-metode ini pun nggak berkembang pesat, sehingg a dipake oleh berjuta-bermilyun orang lainnya untuk bertahan. Informasinya pasti dari mulut ke kuping. Metode-metode yang umumnya sederhana dan mudah dipraktekkan, yang curang, yang sudah pula dianggap rahasia umum.

Akibatnya, setiap orang menganggap setiap orang yang lain darinya, pasti menggunakan metode yang sama dengannya. Metode yang notabene dengan ketidaktulusan, dan mengharapkan suatu imbalan dari setiap pertolongan, bantuan maupun uluran tangan.

Masya Allah.

Tuan Sufi sekarang ini sebenarnya mencoba mengatakan yang sama seperti yang di dalam plastik yang berisi gumpalan jawaban itu, kepada semua jiwa yang ada di gerbong-gerbong kereta api ini. Menyampaikan bahwa sudah saatnya kita kembali mengangkat nurani sebagai penasihat kerajaan perilaku kita. Serta menyampaikan pula bahwa berbaik sangka adalah awal bagi kesemuanya itu. Apakah kita semua nggak malu ? Mengapa yang orang-orang yang peduli pada saat ini tinggal orang-orang tua saja yang baru sadar setelah mengalami proses yang panjang dalam meniti usianya itu ? Bukankah kesadaran yang seperti itu, tinggal kita bangkitkan begitu saja, tanpa harus menunggu dicabutnya beberapa nikmat saat kita sudah tua nanti ? Ataukah orang-orang yang peduli itu hanyalah dari golongan ibu-ibu berjilbab yang sudah dituntut memberi contoh anaknya dengan perilaku-perilaku tulus seperti itu ? Mengapa tidak dimulai saat-saat menjadi remaja putri, di saat kondisi yang benar-benar puncak, yang biasanya selama ini hanya dimanfaatkan untuk hura-hura, berdandan, atau shoping nggak karuan ? Orang yang ketiga yang peduli, mungkin adalah Tuan Sufi. Seseorang yang sudah mencapai taraf empati kepada setiap detail kehidupan di sekelilingnya. Taraf dimana jiwanya mampu merasakan sekecil apapun pergerakan jiwa-jiwa lain. Sehingga di saat orang lain gembira, ia serta merta mensyukuri. Dan di saat orang lain berduka, ia serta merta mengayomi.

@13Ramadhan1418H

Idealisme yan kuciptakan ini, mungkin tinggi sekali. Tapi itulah keadaan ideal yang kuinginkan. Nggak salah, khan kalau kucoba jabarkan ?

[CATATAN IQBAL N0.7.12.01.98]

Iklan

Satu Tanggapan

  1. terkadang kita sering sekali menafsirkan sst yg blm tntu benar, tp inilah kt manusia manusi yg penuh dgn kekurangan & kesalahan…smg sbg insan yg beriman kt sllu diingatkan utk lgsg beristighfar sblm memberikan respon thd sst yg blm tnt benar itu..amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: