• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 304,315 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Manunggaling Kawula Jagad

Suatu saat menjelang tarawih, seorang tetangga datang tergopoh-gopoh menemui Tuan Sufi. Di wajahnya tampak sekali kekhawatiran. Rupanya krisis moneter di negeri tercinta ini menghembuskan isyu baru tent ang habisnya Sembako, dan naiknya semua harga-harga kebutuhan sehari-hari. Sang tetangga tersebut mengajak Tuan Sufi, malam itu juga untuk mencari dan membeli persediaan kebutuhan-kebutuhannya untuk beberapa bulan ke depan, mengajak ke pasar-pasar dan ke supermarket-supermarket. Pikirannya sama seperti juga berjuta orang yang lain di belahan persada ini. Mencari ketenangan, yang selalu saja dikaitkan dengan terpenuhinya segala kebutuhan. Ketenangan dangkal dari keegoisan sendiri, bukan ketenangan dari dalam jiwa. Tuan Sufi tersenyum saja. Di Ramadhan penuh latihan ini, masih ditemuinya orang-orang yang masih saja sekedar melaksanakan kewajibannya saja, dan belum mulai menghayati hakikat-hakikat dari pelaksanaan latihan-latihan itu. Dalam Jiwa Tuan Sufi segera timbul kemakluman, dan segera hadir metode penjabaran-penjabaran untuk menghadirkan kesadaran-kesadaran yang belum hadir itu. Kesadaran yang nampaknya dalam kondisi seperti sekarang ini, harus dikejutkan supaya dapat tercipta. Tulisan kali ini, berisi penjabaran Tuan Sufi terhadap persoalan tadi, tepat tiga hari setelah kejadian Sang tetangga, di pendoponya yang tenang. Dihadiri kami semua, dalam acara pengkajian, Evaluasi serta penghayatan hidup mingguan.

iqbalsufi-alam1Tuan Sufi nampak sangat serius sekali saat itu. Kami tahu, kalau keadaan ini terjadi, berarti Tuan Sufi sangat mengharapkan kami semua bisa mengerti serta menjalankan, atau paling tidak berusaha mencapai kondisi-kondisi yang akan Tuan Sufi jabarkan kelak, yaitu; Mencapai situasi-situasi ideal yang memang sudah digariskan Allah SWT. Sebenarnya apa sih sebenarnya penyebab ketidakmenghayati kita itu ? Aku sendiri pun nggak tau kalau disuruh untuk mencarikan jawaban pastinya, namun kalau boleh aku jabarkan dari apa yang kulihat serta kurasakan selama ini, semuanya itu adalah karena kelupaan kita terhadap untuk apa sebenarnya kita dihadirkan didunia ini.Cobalah tanya pada diri kita sendiri, sudah cukupkah kita dengan kesederhanaan-kesederhanaan yang selama ini kita lakukan ? Sudah memadaikah kekhawatiran yang kita ikuti itu ?Sudah adakah pada kita suatu cita-cita agung untuk menyelaraskan kehidupan sekarang dengan kehidupan yang masa datang ? Serta ; Sudah tahukah sebenarnya untuk apa kita diciptakan ?

Nampaknya, Harus kita sadari kembali bahwa kewajiban menjalankan rencana-rencana Ilahi di alam semesta itu ada di pundak kita ;

Kita yang selama ini dikepung oleh Kekhawatiran-kekhawatiran nggak jelas. kekhawatiran-kekhawatiran yang terlalu sederhana untuk seorang pekerja yang menjalankan rencana-rencana semesta.

Kita yang sudah enggan menyatu lagi dengan alam tempat hidup kita sendiri.

Kita yang malah menjadikan Panas mentari, serta hujan lebat sebagai penghalang gerakan kita.

Kita yang malah gelisah nggak bisa tidur karena terganggu suara Walang sangit, suara burung hantu, ataupun suara-suara binatang malam lainnya.

Kita, yang saat geledek menyambar, berlindung rapat-rapat dibawah bantal-bantal empuk bulu-bulu angsa, menutup dalam-dalam kedua telinga. Padahal di geledek itulah dapat kita temui berjuta-juta gelombang yang bisa menyehatkah tenaga kehidupan kita.

Kita yang tidak pernah lagi berjalan dibebatuan tanpa alas kaki, apalagi berjalan di lumpur basah, yang kotor tapi sebenarnya mengandung berjuta-juta tanah, elemen pembentuk jasmani kita.

Kita yang lebih suka dilingkupi kesejukan instan di gedung-gedung pencakar langit simbol kemajuan teknologi sekaligus kepongahan manusia.

Kita telah memusuhi alam kita sendiri. Dan memang akhirnya sudah sepantasnya alam balik memusuhi kita.

Kita dengan daya yang telah dianugerahkan Ilahi menjadi terlalu dihemat untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Dan terlalu dihamburkan untuk sesuatu yang lebih sangat tidak perlu. Itulah nampaknya yang membuat pikiran kita jadi terkotakkan. Tidak bebas terbang lagi menuju alam-alam tanpa batas. Pikiran kita nyangkut di langit-langit kenyataan semu yang menurut perkiraan kita adalah tujuan kita yang tertinggi. Padahal langit-langit itu seujung kuku pun belum tersangkut ke bagian rencana alam semesta itu tadi. Alam yang akhirnya kita ciptakan sendiri jadi sebegitu sempitnya. Sehingga saat kita mengalami suatu hambatan, kita segera bingung berkepanjangan, stress berat, kehilangan ide-ide, seakan tertimpa langit yang maha berat, yang sebenarnya tidak ada se-mikro n-gram-pun beratnya dibanding dengan berat langit yang sesungguhnya. Sejumput kesadaran yang telah didatangkan ini, hendaknya dapat membuat kita kembali menghayati alam. Menyayanginya, menyatu dengannya. Ber – Manunggaling Kawula Jagat.

iqbalsufi-alam2Hal ini akan menuntun kita untuk menghayati Pembuat Alam itu sendiri, yang kemudian akan membawa ketenangan jiwa yang pancarannya mengisi setiap titik-titik persentuhan kita dengan sekitar kita. Kalau kita mulai lagi mengikuti alam, dimana alam itu sendiri adalah makhluk ciptaan Ilahi yang sangat patuh kepada-Nya, tentu saja akhirnya kita akan senantiasa terbawa untuk selalu patuh padaNya, pemberontakan-pemberontakan yang berpangkal dari ketidakt ahuan kita sendiri itu pun akan tertekan menjadi gumpalan-gumpalan sangat kecil yang tidak berarti lagi. Kita akan segera menyadari, kepatuhan itu bukan lagi suatu paksaan, tetapi adalah suatu kebutuhan.Bicara kita kelak adalah kebenaran, yang murni tanpa motivasi apa-apa, kecuali mengajak orang lain untuk patuh kepadaNya. Pikiran kita kelak akan menembus beratus-ratus dimensi, penuh dengan penerimaan serta rasa syukur tiada habisnya. Pencarian yang ada justru akan mengukuhkan berjuta-juta Kekuasaan Ilahi. Pikiran kita juga akan mengerti bahwa kita manusia yang berakal budi secara substansial (bukan zat) adalah makrokosmos. Karena dengan jelas kita dapat menyaksikan bahwa unsur-unsur alamiah, seperti air, sel-sel, organ-organ fungsional, yang juga dimiliki oleh hewan, tumbuhan, planet serta seluruh jagat raya lainnya adalah merupakan bagian dari kita. Memang secara geografis, jagat ini memang terlalu luas untuk kita sendiri, tapi sampai saat ini, apakah sudah ditemukan bagian dari jagat yang memiliki modal akal serta budi seperti kita ? Alam dipandang lewat sisi ini berkedudukan sebagai mikrokosmos, sebagai bagian kecil. Jiwa kita kelak akan segera pula menyadari, penyatuan dengan alam tersebut tidak membuat kita rendah diri dengan kekuatan fisik kita yang amat-amat sekali terbatas bila dibandingkan dengan kekuatan alam yang selalu menakjubkan. Penyatuan ini justru malah lebih membuat kita merasakan sebuah bentuk rasa cinta tertentu. Kedamaian hati, penghayatan terhadap Penguasa Alam, Pencipta segala kekhususan-kekh ususan, yang menuntun kita untuk tidak lagi merasakan batas-batas dengan alam semesta. Nah, tibalah kini saatnya kita mewujudkan rencana-rencana semesta itu.

iqbalsufi-alam3Rencana yang akan menjadi sangat mudah diusahakan bila ego yang ada pada diri kita sudah menjadi ego alam semesta. Situasi dimana, bila kita justru tidak mengejar apa-apa, malah mendap atkan segalanya. Yang kujabarkan ini hanyalah konsep yang sangat idealis bagi kita. Konsep menapak di awan yang sangat sulit untuk dijabarkan dalam kehidupan keras masa krisis ini.Aku tidak mengharapkan Konsep ini dapat dikejar mati-matian oleh kita semua untuk direalisasikan, Harapanku hanyalah agar kita semua menyadari kedudukan kita sekarang ini adalah masih sebagai makhluk yang termulia.Maka sebagai makhluk yang termulia itu, cobalah berbuat sebagaimana kemuliaan yang telah dianugerahkan tersebut. Serta jika mengalami kekhawatiran tertentu, khawatirlah yang sesuai dengan kemulian itu pula. Sebab kukira, di masa-masa ini, kit a sudah terlalu banyak memproduksi kekhawatiran, yang sebagian besar dihembuskan oleh nafsu kita sendiri, dan juga dari Syetan, yang sudah amat tidak sesuai lagi dengan kedudukan kita sebagai makhluk termulia. Konsep Manunggaling Kawula jagat, adalah konsepku untuk mengenal kemuliaan anugerah Ilahi itu. \par Konsep yang semoga tidak hanya membuatku lebih mengenal kemulian itu, tetapi juga membuatku bersujud bersyukur atas anugerahNya yang tidak terkira bagiku, serta bagi kita semua.

Betul juga kata Tuan Sufi. Aku sendiri ngerasa, bahwa selama ini kekhawatiran-kekhawatiranku jadi lebih banyak dari biasanya. Zaman sulit ini rupanya menekanku keras sekali. Dari skripsiku yang belum beres sampai ke kepastian pasangan jiwaku yang belum kupasti kan, maupun isyu kekurangan sembako di negeriku ini yang sedikit banyak juga punya pengaruh ke pengaturan lalu lintas uangku sendiri. Kusadari juga, bahwa kekhawatiran-kekhawatiran yang kuanggap paling pantas untuk kukhawatirkan itu tadi, justru adalah ke khawatiran yang paling tidak perlu untuk kukhawatirkan. Dasar…. ! Kemana sih kesadaranku selama ini ? Hidup ini sederhana saja kok, cukup beribadah kepada Ilahi dan berbuat dengan mengharapkan Ridho-Nya, serta bersyukur dan bertawakkal kepada-Nya. Itu saja.

@1418H/12/Ramadhan
[CATATAN IQBAL N0.6.11.01.98]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: