• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,420 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Kegelisahan

Pemikiran ini adalah soal kegelisahan.
Berawal dari kejadian-kejadian dua bulan terakhir.
Kejadian yang punya pengaruh sangat besar, bagi sekelompok masyarakat kecil disekitarnya.
Masyarakat tempat berpijak Tuan Sufi, yang dia bina, serta selalu balik membinanya juga

Bismillahirohmanirrohim.

Dengan kalimat Toyyibah ini, awal pemikiran bagi Tuan Sufi telah dicanangkan. Sudah tidak ada kata-kata lagi di kesenyapan malam menjelang Ramadhan 1418 H itu. Yang ada cuma suara jangkrik, suara detak jam, suara cecak yang hanya sekali-kali, serta keremangan lampu teplok yang kelap-kelip tertiup angin malam. Tuan Sufi diam saja duduk di atas sajadah merahnya yang telah setia berpuluh-puluh tahun lamanya menemani tafakkurnya itu. Sajadah lama, yang merupakan hadiah dari Kiayi Syafii Mukmin atas kemenangan hafalan surat Juz Amma, sewaktu kecil dahulu. Didampingi tasbih coklat oleh-oleh dari tanah suci dari ayahandanya tercinta, tergenggam di tangan kanan. Berputar selalu. “Fenomena yang tidak bisa dipungkiri lagi telah terjadi, dan harusiqbalsufi-gelisah segera dicarikan solusinya”. Kata satu suara dikepala Tuan Sufi. “Penyatuan dua masyarakat membentuk keterikatan tertentu yang dilandaskan kepada perintah Ilahi, rasa mawaddah, rasa cinta dan kasih sayang, sebenarnya bukanlah topik untuk dipikirkan dalam beberapa jam saja”. Sangkal satu suara lagi. “Tapi, kalau tidak kita mulai dari saat ini, kapan lagi ?, Dari pada nantinya malah jadi suatu bentuk ketergesa-gesaan yang bikin kacau segala perhitungan. Lebih baik semua itu kita mulai dari sekarang”. Kata Suara pertama yang tidak bisa disangkal lagi menuntaskan perdebatan itu.

Sudah deh. Kurasa sudah cukup kuciptakan awal yang seakan-akan menjadi masalah yang amat rumit untuk dipecahkan itu.

Tuan Sufi di pagi cerah ini tenang-tenang saja, kok. Tapi memang terus terang saja, acara walimahan yang terus menerus dihadirinya beserta pula teman-teman Tuan Sufi itu, dalam 2 bulan terakhir ini, sedikit banyak punya pengaruh yang lumayan besar untuk m enghasilkan teori-teori baru Made in Tuan Sufi yang kesohor itu. Teori-teori itulah yang ditunggu-tunggu sejak lama oleh masyarakat kecil yang ternyata turut pula mengalami kegelisahan akibat acara-acara tersebut, sekedar mengkaji serta menca ri cara mengejawantahi serta menyiasati kegelisahan di dirinya masing-masing. Untuk lebih ringkasnya lagi, sudah kucatat point-point penting yang dijabarkan oleh Tuan Sufi di pagi itu. Ini pun semoga aku tidak salah mengerti lho, dan juga mohon maaf sebesar-besarnya kepada Tuan Sufi, kalo tulisanku ini sedikit menghilangkan kedalam an makna Tuan Sufi Theory tersebut.

Point Pertama :Kenapa timbul kegelisahan itu.

Kita, masyarakat kecil yang sudah kompak, sepikiran dan sejalan, terdiri dari pemuda-pemuda se hat jasmani serta rohani. Pemuda-pemuda tidak hanya membutuhkan perhatian di antara mereka sendiri, tapi juga membutuhkan pula sebentuk perhatian dari lawan jenisnya. Walau pun secara esensial, tidak terlalu memaksa, namun secara naluri kebutuhan yang sep erti ini sudah sangat urgent. Kehadiran di acara Walimahan yang terus menerus, rupanya dengan tidak bisa ditahan lagi, membentuk kelahiran perasaan hampa tertentu, yang selama ini sebenarnya sudah sangat baik ditekan dengan berbagai macam kesibukan. Memang kuakui, kesibukan kami akhir-akhir ini sudah tidak terlalu banyak menyita pikiran, waktu serta tenaga lagi, sehingga setiap pergerakan yang ada, akan selalu menyorot ke dalam jiwa masing-masing, memperbaiki kekurangan-kekurangan diri, serta bahkan mere-de finisi prinsip. Situasi kayak begini yang menurut Tuan Sufi dinamakan Situasi Suspend, sama seperti situasi tidak beroperasi sementaranya Bursa Efek Jakarta akibat krisis moneter di negeri kita ini. Bedanya, Situasi suspend di BEJ adalah sebagai akibat dari suatu bentuk krisis, tapi justru situasi suspend di masyarakat kecil kita ini justru menyebabkan suatu krisis.(O, mak. Hebat nian Masyarakat kita itu).

Point Kedua : Bagaimana timbul kegelisahan itu.

Di bagian ini Tuan Sufi bikin kami merah padam karena malu. Walau nyatanya kami tidak cerita sama sekali mengenai pergerakan kami dalam situasi suspend tersebut, nampaknya Tuan Sufi sudah menjejaki lebih dahulu kemungkinan-kemungkinannya, dan menjabark annya dengan jelas di depan kami.(Susah memang, merahasiakan apa pun pada Tuan Sufi). Katanya begini ; Akibat lahirnya kegelisahan itu, Antum semua rupanya mulai bergerak. Segera bergerak dengan semua kecerdasan dan segala kecerdikan bahkan mungkin sedikit – maaf lho – manipulasi data, yang merupakan hasil tempaan kesibukan-kesibukan waktu masih pada jadi macan kampus dulu. Gerakan – yang seperti biasa – dilandasi keyakinan dan keoptimisan 150 % akan berhasil.Sebagian dari Antum semua kemudian mengaktifkan mode scanning frequency ke segala arah, mencari figur-figur yang pas serta mampu antum kendalikan.

Segera saja, muncul prioritas-prioritas serta urutan-urutan figur-figur itu di pikiran antum. Sebagian lagi, ada juga di antara antum yang nampaknya memaksakan hadirnya kecocokan di satu figur tertentu. Berkonsentrasi di satu jiwa, yang dengan itu kemudian men-doktrin diri sendiri, bahwa dengan ikuti waktu, figurnya itu pasti tercipta seperti yang diharapkan.Ana tidak menyalahkan gerakan antum semua itu. Sebagaimana Ana juga tidak mendukung sama sekali. Sebab, Kadangkala Antum semua suka tidak menyadari berada dalam situasi apa serta dalam lingkungan yang bagaimana, saat mengaktifkan mode scanning frequency itu. Antum juga bahkan jadi sedikit ceroboh dalam bersikap.Antum semua harus ingat, kita menghadapi beragam latar, yang tentu memerlukan perlakuan yang berbeda. Bersikap kepada teman di lingkungan mesjid dengan bersikap kepada teman di Bioskop tentu berbeda. Serta jangan pula tertipu oleh latar-latar yang sengaja dikacaukan oleh ‘teman’ kita itu.

Soalnya biar bagaimana pun mode pengamatan yang antum semua aktifkan sekarang adalah mode yang mampu menutupi keobyektifitasan penilaian kita.Ana rasa, Antum sudah lebih menyadari berbagai kelalaian akibat mode itu tadi, di mana Antum jadi sangat lebih bebas kepada teman-teman akhwat di lingkungan mesjid, dan jadi lebih sangat jadi orang Suci pada teman-teman di lokasi yang belum jelas. Antum memang akhirnya jadi jembatan di antara berbagai keadaan latar tersebut, namun jembatan yang sangat rapuh, yang sewaktu-waktu dapat putus karena tidak pernah menempatkan sesuatu pada tempatnya. (Cukup ah, aku malu sekali. teguran ini tepat menonjok di hidungku, dan dengan sukses memecahkan jerawat kelalaianku).

Point Ketiga :Cara menghadapi kegelisahan itu.

Umur kita terus berkurang, kesempatan-kesempatan akan datang dan pergi dalam hitungan yang sangat cepat. Tapi perlu diingat, nggak semua kesempatan yang harus diambil. Cukup yang direkomendasikan oleh nurani saja.Penyatuan dua hati, yang akan dilanjutkan dengan penyatuan dua keluarga, memang betul sekali adalah bukan untuk dipikirkan dalam waktu yang sempit. Bahkan tidak hanya sebatas level pemikiran saja karena ada bagian-bagian pokok yang justru hanya bisa didapat dengan ikhtiar serta Doa. Di bagian yang seperti inilah, yang menurut Tuan Sufi – kalau aku nggak salah ngerti lho, dimana kita memegang kendali serta keputusan secara penuh. Orang tua hanya tinggal menyetujui saja. Karena memang, ini adalah masa depan kita sendiri.

Taaruf yang sehat perlu kita kembangkan. Penyelidikan akurat mengapa nggak segera dilakukan, karena Rasulallah dalam hadistnya, memang menganjurkan untuk melihat dulu siapa-bagaimana yang ingin kita nikahi, kok. Hendaknya pula, dalam Taaruf itu, kita memandang dengan hati bersih. dengan mode scanning frequency keimanan yang tidak memperlakukan lawan jenis kita sebagai obyek pemuasan perasaan saja, tetapi sebagai subyek yang perlu juga dilayani dan diarahkan ke keadaan yang diridhoi Ilahi.

Kegelisahan bagi Kita semua, rupanya dialami juga oleh Tuan Sufi kita itu. Namun dengan ketenangannya, Tuan Sufi mengembalikan semuanya dengan pelaporannya langsung kepada Sang Penggenggam matahari di malam sunyi senyap, di atas sajadah merah dengan putaran tasbih di tangan kanannya itu. Satu hari lagi menjelang habisnya bulan Sya’ban, yang berarti masuknya bulan Ramadhan. Dari pada dihiasi kegelisahan yang tidak jelas, mengapa nggak kita ganti dengan kegembiraan saja ? Kita masih diberi kesempatan membersihkan diri lagi. Bersahur, bershaum, berta’jil – buka bersama, bertarawih berjamaah di mesjid, ber-i’tiqaf, lalu disempurnakan dengan berzakat. Mengapa nggak ini dulu yang kita syukuri dan laksanakan. Siapa tahu saat Tarawih dimesjid ketemu dambaan hati ? (ha..ha.. ha… pret!)

[CATATAN GOH N0.5.12.97.30]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: