• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 314,672 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Harapan Untuk Anakku Kelak

Sebuah tengah malam, lamat-lamat terdengar suara datar, sedikit berbisik dari sebuah rumah sederhana, sebentuk doa, seperangkat permohonan kepada Tuhan alam Semesta .. Sebuah dialog dengan generasi selanjutnya yang akan segera hadir menjelang.

Anakku,
Kuhadirkan dialog ini, sebagai wujud tanggungjawabku, kepada engkau dan teman – sahabat – kerabat – karibmu – seluruh generasimu. Meski dalam lingkup yang sangat kecil dan sangat sederhana, , semoga dialog ini dapat kau pahami jua.

Anakku,
Entah kau ada dimana sekarang ini. Tapi aku sangat yakin, wujudmu, mental serta rohmu masih dalam genggaman Yang Maha Perkasa. Kau pasti masih suci, pikiran serta hatimu masih murni tiada sedikitpun terkotori oleh polusi, apalagi korupsi maupun kolusi.

Anakku,
Kau pasti belum mengenal sekularisme, apalagi komunisme. Karena disana kuyakin kau belum sedikit pun membaca Das-Kapitalnya Karl Marx, dan belum terpengaruh omongannya para pemikir perusak hati. Jati dirimu pun belum tercemar Darmogandul atau Gotocolonya Kejawen.

Anakku,
Saat tiba saatnya nanti kau tiba di dunia ini dan menghirup udara membingungkan di dunia ini, harap kau jangan kaget, Nak. Kalau tiba-tiba semua negara sudah tidak punya identitas dirinya karena perdagangan bebas AFTA sudah diberlakukan, kau pun jangan stress melihat hutan tropis makin mendekati lenyap, dan jangan bingung-bingung lagi mencari bahan bangunan, karena nanti semoga saja dapat aku siapkan rumah indah berkarakter Islami untukmu, supaya dapat bertahan. Tak usahlah kau ribut-ribut karena banyak kini persekutuan antar bangsa, konspirasi yang tak jelas, dan macam-macem lainnya, itu semua adalah bukti semakin semrawutnya dunia, tugasmu adalah menciptakan tahtamu atas dasar keimananmu sendiri.

Anakku,

Keringat dinginmu tak perlu mengalir, karena melihat gadis-gadis bergaul bebas, berkostum seronok, sangat permissivisme, Nak. Kau juga jangan kaget melihat ribuan remaja hamil tanpa nikah, aborsi merajalela, dan kedahsyatan perilaku binatang lainya. Kau pun juga jangan terbelalak melihat hukum-hukum Tuhanmu banyak dilecehkan manusia, bukan hanya oleh komunitas manusia yang memang tidak kenal Tuhan, di sekitarmu pun yang konon ber-Ketuhanan yang keesaanNya sangat Maha, masih jutaan yang masih meletakkan Tuhannya secara terbelah-belah. Tuhan cukup di-eksiskan pada saat mereka akan khutbah, nikah, sholat, haji, dan hanya pada tempat-tempat tertentu seperti mesjid, langgar, surau atau pesantren. Tapi di pasar, sekolah, terminal, kantor, apalagi di kehidupan berpolitik negara, apa pedulinya Tuhan, kata mereka.

Anakku,
Aku harap kau tidak larut pada itu semua. Justru harusnya malah membangkitkan semangat juangmu. Nak, ikutlah berjuang bersama untuk izzul Islam wal Muslimin. Aku sangat mengharap kau berada di barisan terdepan berdakwah, berjihad membersihkan muka bumi yang mulai gelap gulita ini. Aku pun ingin melihat, kau bersama generasimu membawa cahaya-cahaya Ilahi menerangi kembali bumi ini.

Anakku,
Sebagai tanda cinta kasihku padamu, sejak dini, akan kupilihkan untukmu ibu yang sholihah, yang senantiasa mendekapmu dengan segala kasih sayangnya, dan akan selalu men-tarbiyyah-mu serta akan menghiburmu ketika kamu menangis, yang akan membimbing fikrah dan akhlakmu, melatihmu berjihad, membela agama ini dari tipu daya musuh-musuh kita, serta melindungimu dari paham-paham ‘miring’ yang makin banyak saja bermunculan akhir-akhir ini. Doakan ya Nak, semoga ada (calon) ibumu yang mendengar dialog ini dan mengerti tujuan kita.

Anakku,
Ibumu nanti istiqomah dalam berdakwah, rapi berbusana muslimah, dia ramah, penjaga amanah, dia adalah hiasan dunia yang paling indah, bersamanya Insya Allah kita dinanti-nanti Jannah. Amin, ya Nak..

Anakku,
Disaat kau sekolah nanti, jadilah murid yang baik ya Nak, jagalah amanah bapak dan ibumu, rajinlah belajar. Aku sangat sedih kalau lingkungan keseharianmu dekat dengan bioskop-bioskop, atau kongkow-kongkow di Mall. Apalagi cuma nongkrong di jembatan sambil ngitung mobil yang lewat. Nak, aku akan bangga kalau kau sekolah dengan baik, juga bisa berdakwah dengan tabah, mengkaji Islam dengan sabar, yang kesemuanya itu memang kewajibanmu.

Anakku,
Aku mengharapkan kau akan selalu meneladani Baginda Nabi, kau akan tegar laksana Umar bin Khattab, kau cerdas laksana Ali bin Abi Thalib, kau dermawan seperti Abu Dzar Al Ghifari, kau akan bijak seperti Abu Bakar, kau pun nggak apa-apa jadi kaya raya seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf, dan yang harus selalu kau pegang, adalah kau selalu mengikuti aturan ayat – ayat Ilahi.

Anakku,
Aku rindu kau dan generasimu mengerti bahwa tugas tugas bapakmu dan generasi bapakmu ini masih jauh dari sempurna. Engkau harus melanjutkannya. Meski cuma seorang diri. Jadilah engkau tiang pancang yang selalu tak tergoyahkan, seperti sajakku ini …..

Bila ada seratus Mujahiddin,
Aku ada di antaranya.
Bila ada sepuluh Mujahiddin,
Aku ada di antaranya.
Bila ada seorang Mujahiddin,
Akulah orangnya

Anakku,
Kokohkan Idealismemu.

Di tahun baru 1418 Hijriah ini, calon bapakmu serta calon ibumu masih berjuang mencari keridhoanNya. Perjuangan kami tiada akan pernah berhenti, kecuali memang sudah saatnya kami dipanggil kembali oleh Yang Maha Memanggil. Dan di saat itu menjelang, kami harap engkau sudah hadir dengan panji-panji Keislamanmu, dengan tekad yang sama dengan kami sekarang ini.

Anakku,
Selamat berjuang.

Muharram 1418

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: