• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 715.192 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Menuju Pemahaman atas Kebenaran Hakiki

Seri Mengaji Masjid Al I’tisham sabtu, 16Juli 2022, Ust Sambo

# Kebenaran hakiki

1. Kekal tidak akan pernah hilang (al Haqq)
2. Tidak bisa diubah2.
3. Tdk terikat pada waktu dan tempat, dimanapun kebenarannya tetap.
4. Berbasiskan ilmu Allah, berdasarkan kabar kitab suci dan hadits nabi. Ilmu hakikat vs ilmu dzahir (berdasarkan indera & akal manusia)
5. Berkaitan dengan hal-hal ghaib : Allah, surga neraka, pahala, ridho dan rahmat Allah
18:49 – alhaqqu…
Membuat akal kita tdk dpt mencapainya.
Dan yg haqq itu baru diketahui ketika sudah meninggal.

# Modal menuju kebenaran hakiki

1. Ma’rifatullah – pengenalan terbaik kepada Allah. Ada 3 cara ma’rifatullah :
– belajar ttg Allah dan seluruh sifat2Nya yg sempurna baik versi salaf ataupun Asy’ari.
– mengetahui wahyu Qur’an dan sunnah nabi
– akal dan hati yg jernih (ulul albab), orang kafir akal & hatinya tidak jernih. Ulul albab itu dlm quran pasti beriman dan bertaqwa.
3:191
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

– Al wara wal barra – tdk menyandarkan sesuatu yg tdk pantas bagi Allah (misal : Tuhan punya anak, tuhan lelah, tuhan pencemburu,…)
Tidak pula menyandarkan sifat2 ketuhanan kepada manusia, walaupun nabi sekali pun, apalagi manusia biasa (bahwa manusia bisa memberikan manfaat dan mudharat, bisa menyembuhkan, bisa ngasih rizki,…)

# Manfaat berpegang pada kebenaran hakiki

a- selalu berfikir dan bertindak positif berdasarkan wahyu. –> Qs. 2:216 – Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
– Dibalik keburukan ada kebaikan – Misalnya adanya syetan dan neraka membuat kita berusaha terbaik meraih keridhoan Allah.

b- Tidak ada yg bisa membuat putus asa orang yg optimis.
Sungguh menakjubkan apapun yg terjadi pada orang beriman… (Al hadits)

c- iman, mental dan spiritual tdk bisa diprovokasi, bahkan syetan pun tdk bisa. Krn syetan hanya bisa menggoda yg dzahir2 saja, ketika manusia sdh dlm pemahaman hakiki, maka diluar kemampuan syetan yg melapisi perbuatan buruk dgn kebaikan.

Ulil albab pasti taqwa, org kafir kaget menyadari fakta setelah kematian terjadi :

Qs. 21:97 – Dan (apabila) janji yang benar (hari berbangkit) telah dekat, maka tiba-tiba mata orang-orang yang kafir terbelalak. (Mereka berkata), ”Alangkah celakanya kami! Kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami benar-benar orang yang zhalim.”

Qs.2:68-69 tentang sedekah, syetan menggoda bahwa sedekah bisa membuat miskin.

d- menjadi orang yg yaqin dan ikhlas
– syetan paling takut dgn org yakin dan ikhlas.
– tertusuk duri saja dosa kita diampunkan
– mati karena tenggelam, sakit tertimpa, sakit perut apalagi mati dibunuh (dosanya diberikan ke pembunuh, pahala si pembunuh diberikan kepadanya).

– Qs. 2:261-281 pelajaran ilmu hakikat infaq lengkap :
Barang siapa yg berbuat kebaikan, maka kebaikan itu utk kita, begitu juga keburukan.
2:269 – ulul albab
2:272 – infaq itu hakikatnya kebaikannya utk diri sendiri, walau diberikan kpd siapapun.

# Hambatan menuju ma’rifatullah :
1. Hawa nafsu
2. Dosa-dosa
3. Cinta dunia

Wallahu A’lam

LIMA KEKUATAN PADA SURAT AL KAHFI

Seri Mengaji Masjid Al I’tisham, 11 Juli 2022, Ust. Dr. Samsul Basri, S.Si, M.E.I

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, seseorang dikatakan kawan karena sudah lama dikenal dan sudah sering berhubungan dalam hal-hal tertentu.

Penting untuk memperhatikan kepada siapa seseorang berkawan. Nabi saw mengingatkan yang demikian,
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يُخَالِل
Seseorang itu berdasarkan agama kawannya, maka hendaknya setiap orang memperhatikan siapa yang layak dijadikan kawan baginya.

Islam membimbing “Kita” untuk terus berdoa -tidak kurang 17x setiap hari dipanjatkan- agar ditunjukkan jalan yang lurus sebagaimana jalan manusia yang diberi nikmat.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ (6) صِرَ ٰ⁠طَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ (7)
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Orang-orang yang diberi nikmat itulah yang harus diikuti dan diteladani karena merekahlah sebaik baiknya kawan.
Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.(Surat An-Nisa’, Ayat 69)

Berkawan dengan manusia-manusia yang diberi nikmat berpeluang mendapatkan nikmat pula. Berkawan dengan manusia-manusia bejat berpeluang jadi bejat pula.

Di dalam Al Qur’an ada sekelompok manusia yang justru syaithan-syaithanlah yang akan mendatanginya dan bangga berkawan dengannya. Diantaranya adalah seperti pengabaran Allah berikut ini,

هَلۡ أُنَبِّئُكُمۡ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّيَٰطِينُ
Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun (mendekat) ?

تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ
Mereka (setan) turun mendekat kepada setiap pendusta yang banyak berdosa,

Dua ayat di atas terdapat di surat Asy Syu’ara ayat 221-222 bahwa syaithan akan bangga berkawan dengan manusia manusia yang suka berdusta dan banyak berbuat dosa.

Selain itu, Syaithan juga berkawan dekat dengan orang-orang yang suka berbuat tabdzir (boros). Dan Tabdzir itu termasuk perbuatan ingkar atas nikmat Allah.

إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al Isra(17): 27)

Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah) adalah hari makan dan minum. Dalam kaitannya dengan ayat di atas, diantara bentuk dan contoh Tabdzir itu, memenuhi piring makan dengan banyak makanan terutama nasi akan tetapi tidak dihabiskan sehingga harus terbuang menjadi sampah. Padahal Aisyah mengabarkan bahwa seutama-utama manusia yang diberi nikmat yaitu baginda Nabi Muhammad saw jika telah makan dengan suatu wadah niscaya wadah itu akan bersih tanpa bersisa dari makanan. Bahkan jari-jari beliau akan dilumatinya hingga bersih.

Buatlah pilihan! Berkawan dengan orang yang diberi nikmat atau berkawan dengan Syaithan?

Semoga “Kita” dikumpulkan dengan orang-orang yang diberi nikmat. (Aamiin)

Berkompromilah bukan berkonfrontasi !

Seri Mengaji Masjid Al I’tisham Jum’at, 8 Juli 2022, Ust. Syukron Makmun

Fiqih Muqorronah (fiqih perbandingan mahzab-pembahasan fikih dalam berbagai mazhab, baik dengan deskripsi maupun dengan mentarjih (menguatkan) salah satu pendapat) – sdh terdokumentasi dgn baik dalam khazanah Islam. Spy kita lebih legowo terhadap perbedaan yg ada.

Teori “Atta’aruf addhilalah” adalah mengkompromikan (bukan mengkonfrontasi) dalil-dalil yg seperti bertentangan.

Ulama salaf : tdklah ada 2 dalil yg seolah-olah berseberangan melainkan imam Syafi’i mampu mengkompromikannya.

Semakin besar literasi keislaman kita, akan semakin toleran atau moderat dalam Muamalat bahkan dalam hal ibadah.

# Dalil shaum arafah dengan Wukuf :

Diriwayatkan oleh Abdul aziz bin Abdullah.
Hari arafah adalah hari berkumpulnya manusia. (HR. Abu Daud)

hadith daripada riwayat Abu Qatadah al-Ansari bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Berpuasalah pada hari Arafah, aku mengharapkan kepada Allah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun selepasnya.”

# Dalil shaum arafah dengan tanggal 9 Dzulhijjah :
Kabar dari sebagian istri nabi, Bahwa Rasulullah ﷺ biasa berpuasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah), hari Asyura, tiga hari setiap bulan, Senin pertama setiap bulan, dan dua kali Kamis. (HR An-Nasai)

Tahun ke-2 H sudah bershaum arafah
Tahun ke-9 H atau tahun ke-10 H nabi berhaji dgn syari’at wukuf.

Tinggal dilihat :
1. Wihdatul matla’ – tempat munculnya hilal, jika sdh terlihat di suatu negara maka berlaku untuk negara lain.
2. Ikhtilaful matla’ – masing2 negara punya matla sendiri. Dalilnya : HR muslim, kisah Kuraib.

Aku tiba di Syam, dan aku laksanakan perintah Ummul Fadhl. Bertepatan munculnya hilal bulan Ramadhan, ketika aku berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku pulang ke Madinah di akhir bulan Ramadhan. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma bertanya kepadaku, ia menyebut tentang hilal. Dia bertanya,”Bilakah kalian melihat hilal?” Aku menjawab,”Kami melihatnya pada malam Jum’at!” Tanya beliau lagi,”Apakah engkau menyaksikannya?” Jawabku,”Ya. Orang-orang juga melihatnya. Mereka berpuasa dan Mu’awiyah turut berpuasa!” Abdullah bin Abbas berkata,”Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu. Kami akan terus berpuasa hingga kami menyempurnakannya tiga puluh hari, atau kami melihat hilal Syawal.” Aku berkata,”Tidak cukupkah kita mengikuti ru’yat hilal Mu’awiyah dan puasanya?” Abdullah bin Abbas menjawab,”Tidak! Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami.” (Hadits riwayat Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad. At Tirmidzi berkata,”Hadits hasan shahih gharib.”)

Wallahu A’lam

UMAT ISLAM SEDUNIA BERHARI RAYA PADA HARI YANG SAMA

Oleh: Muhammad Abbas Aula.

Topik ini pasti mengundang perdebatan seru. Dengan teori Rukyat Global dan Rukyat Lokal, otomatis akan lahir dua pendapat yang berbeda.


Mestinya tidak perlu diperdebatkan lagi. Perdebatan ini seperti sudah final, tinggal pilih, mau memilih yang mana dari dua pendapat yang berbeda ini.

Para Ulama dengan bijak telah mewariskan khazanah ilmu kepada generasi sesudahnya untuk diamalkan dan bukan untuk diperdebatkan.

Maka jika ada dua pendapat yang berbeda seharusnya disikapi dengan bijak, dan bukan dengan mencibirkan atau mempertontonkan sikap yang sungguh tak bijak.

Teori tentang Rukyat Global dan Rukyat Lokal, kembali mengemuka, tapi bukanlah barang baru.
Meskipun muncul dengan narasi yang berbeda, dibumbui dengan segala pernak perniknya, namun jika ditarik jauh kebelakang sejarah perkembangan madzhab, pada hakikatnya kedua pendapat ini telah ada dan berkembang sejak akhir abad pertama Hijrah hingga abad 3-4 H.

Ketika itu terjadi dialog antara dua Sahabat mulia Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dengan Kuraib ra, ( dikenal dengan Hadits Kuraib.)

Dialog tentang Rukyatul Hilal dan Tauhidur Ru’yah, lalu kini berubah menjadi Penyatuan Awal Ramadhan dan Penyatuan Hari Raya (Tauhidul A’yad) yakni Idul Fitri dan Idul Adha.

Dialog saat itu tentang Tauhidur Ru’yah, yakni Penyatuan Rukyat antara umat Islam di kawasan Suriah, Yordania, Palestina dan Iraq yang dahulu dikenal dengan Wilayah Syam.
Dan umat Islam di kawasan Hijaz khususnya kota Madinah.

Diakhir dialog, Kuraib mengajukan pertanyaan singkat : Mengapa kita tidak cukupkan mengikuti rukyat Muawiyah dan shaumnya penduduk Syam ?
Jawab Ibnu Abbas : Hakadza amaranaa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah perintah Rasulullah kepada kita.
Perintah Rasulullah saw yang dimaksud adalah : Puasalah kamu karena melihat bulan dan berhari rayalah kamu karena melihat bulan (HR.Ahmad, Muslim, Turmudzi)(lihat Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 1/325).

Istinbath hukum dari dialog ini, ditetapkan bahwa masing-masing negri mempunyai rukyat sendiri-sendiri yang bernama Rukyat Lokal.

Tetapi kemudian pendapat ini berkembang menjadi permanen bahwa tidak mungkin umat Islam berhari raya pada satu hari yang sama. Dan tidak mungkin mengawali puasa Ramadhan pada hari yang sama. Perbedaan Rukyat Hilal tidak dapat dihindari karena adanya perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan).
Dan perbedaan mathla’ adalah sunnatullah fil kaun, hukum Allah dalam ciptaan alam raya, yang tidak mungkin dirubah.

Sebaliknya pendapat yang kedua, dengan tegas menyatakan sangat memungkinkan Penyatuan Awal Ramadhan dan Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha).
Pendapat yang kedua adalah pendapat Jumhur Ulama, pendapat mayoritas Ulama Mujtahidin.

Dalam alam kebebasan berpendapat seperti sekarang ini, suara terbanyak (suara mayoritas) bisa memaksakan kehendak walaupun yang terbanyak itu hanya berjumlah separuh lebih satu suara.

Al-‘Allamah, Syeikh Abdurrahman al-Jazairi, menuturkan bahwa Jumhur Ulama Ahli Fiqh berpendapat : *Apabila bulan sudah terlihat di suatu negri dan berita telah menyebar sampai ke negri yang lain, wajib shaum bagi seluruh negri tersebut tanpa membedakan jarak dekat dan jauh. Menurut pendapat ini perbedaan mathla’, mutlak tidak menjadi patokan, alasan dan pertimbangan.*

Pendapat ini dianut oleh tiga Imam Madzhab Fiqh, Hanafi, Maliki, dan Hambali. (Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,1/446)


Imam Syafi’i Rahimahullah, justeru tampil berbeda pendapat dengan Jumhur Ulama. Dengan dasar hasil dialog Ibnu Abbas dan Kuraib tersebut, Imam Syafii menegaskan bahwa masing-masing negri mempunyai rukyat sendiri-sendiri.

Fakta menunjukkan bahwa selama berabad-abad seluruh umat Islam tak terkecuali pengikut tiga Imam Madzhab yakni Hanafi, Maliki dan Hambali juga sama mengikuti pendapat Madzhab Syafii.

Belakangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syeikh Utsaimin, juga memfatwakan bahwa masing-masing negri mempunyai rukyat sendiri.

Bahkan Fatwa Lajnah Da’imah Arab Saudi yang bermadzhab resmi Hambali, menjawab pertanyaan para aktivis da’wah di beberapa negara Afrika, seperti Pantai Gading, Gana, Mali, dan Sinegali tentang Rukyat Hilal Ramadhan dan 1 Syawal. Fatwa Lajnah Daimah No.313 ini menganjurkan agar mereka mengikuti rukyat yang ditetapkan oleh pemerintah di negrinya masing-masing.(Fatawa 10/98)
Sebagai penganut resmi Madzhab Hambali dan juga menjadi Madzhab Resmi Kerajaan Saudi Arabia, dengan bijak Lajnah mengembalikan permasalahan ini kepada kaum muslimin bersama pemerintah di negara masing-masing tanpa memaksakan kehendak.

Sementara pendapat tiga tokoh Imam Madzhab Hanafi, Maliki, Hambali, yang banyak pengikutnya dan berkembang di benua Afrika dan Timur Tengah, termasuk India dan Pakistan, walaupun merupakan pendapat mayoritas, dalam istilah Fiqh disebut Jumhur Ulama, praktis pada masa awal perkembangan Madzhab Fiqh, pendapat ini hanya teori diatas kertas.

Pendapat Jumhur Ulama ini tdak dapat diterapkan, dan tidak mungkin dipaksakan untuk diterapkan karena tidak memiliki daya dukung material berupa alat komunikasi dan transportasi secanggih yang dialami dan dirasakan oleh penghuni bumi di dunia modern hari ini.

Memasuki perayaan Idul Adha 1443 H tahun ini, perdebatan tentang Kesatuan Rukyat Hilal (Rukyat Global atau Rukyat Lokal) kembali mewarnai penentuan Idul Adha, Hari wukuf dan Puasa Arafah.
Lalu masing-masing berupaya membangun argument dan memperkuatnya dengan dalil dan argument yang sama seperti dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Prof.Dr. Wahbah az-Zuhaili salah seorang anggota al-Majaami’ al-Fiqhiyah al- ‘Alamiyah, sebuah Lembaga Riset Fiqh Dunia, mentarjih (mengunggulkan) pendapat Jumhur Ulama tiga Imam Madzhab tentang Kesatuan Rukyat dan Hari Raya.

Bagi Zuhaili, Tauhidul Ibadah dan menghindari perpecahan lebih diutamakan mengingat perintah Nabi saw, untuk penentuan awal Ramadhan dengan metode Rukyat Hilal tidak memilah dan memisahkan antara satu negri dengan negri lain.

Lalu dengan sangat hati-hati untuk tidak mencampuri urusan dalam negri di negri-negri Islam lainnya Zuhaili memberi saran bahwa Tauhidul A’yaad, Kesatuan Hari Raya diawali dari negara-negara Arab, dimulai dari Oman di Timur Jazirah Arabiyah hingga Maghribil Aqsha, Barat Jauh di ujung benua Afrika. ( al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, 2/537).

Konferensi Islam Internasional (OKII) dimana Indonesia sebagai salah satu anggota, dalam sidang tahunannya di Istambul Turki pada tahun 1978, telah menghasilkan sebuah kesepakatan : *Ditetapkannya Makkah Al-Mukarramah Sebagai Kiblat Penetuan Hari Wukuf dan Idul Adha* OKII menghimbau semua negara anggota untuk memenuhi seruan ini.

Kesepakatan ini bukan tanpa landasan Syar’iy. Beberapa Fatwa Ulama bertaraf I ternasional telah dikeluarkan mendahului kesepakatan tersebut.

Fatwa Dr.Abdul Halim Mahmud, Syaikhul Azhar (1973-1978) dalam bentuk press release tahun 1975 menyatakan bahwa : Penentuan bulan Dzulhijjah hendaknya semua negara berpedoman kepada Hasil Rukyat Saudi Arabia dan agar kaum muslimin satu pendapat dalam persoalan Wukuf di Arafah.(Sumber, Majalah An-Nadwah, Makkah 20 Desember 1975).

Konon Fatwa ini dikeluarkan menjawab pertanyaan seorang Tokoh Islam yang dikenal luas di Timur Tengah, Allah Yarham M.Natsir.(Syamsul Bahri, Maqalah Mudzakarah DD).

Sebelum itu, sudah ada Fatwa Syaikhul Azhar (1967) tentang seruan menjadikan standar Wukuf di Arafah sebagai penetapan Idul Adha sesuai pandangan Jumhur Ulama dan Keputusan Majma’ al-Islamiyah (1386H/1966M) (Sumber Fatawa Darul Ifta al-Mishriyah, al-Majlis al-A’la Li asy-Syu’un al-Islamiyah)

Menyusul dukungan dari Rabitha Alam Islami yang berpusat di Makkah Al-Mukarramah (1975) terhadap Fatwa Syaikhul Azhar, Abdul Halim Mahmud, berupa surat resmi yang ditandatangani oleh Syeikh Muhammad Shalih Qazzaz Sekretaris Jendral Rabitha, tertanggal 25 Juli 1975, Perihal Penetapan Hari Idul Adha.

Kemudian Fatwa Majma’ Fiqh ad-Dawli (30 Negara) Makkah, 8-13 Shafar 1407H/ 11-16 November 1986 menyatakan “Standar Wukuf di Arafah seyogyanya diikuti”.

Fatwa yang datang dari Asia Tenggara, Dr. Ismail Luthfi Fathony, Rektor Universitas Yala Thailand, Anggota Akademi Fiqh Antar Bangsa Jeddah dan Anggota Majlis Ta’sisi Rabitha Alam Islami, menulis buku “Idul Adha Mengikuti Hari Arafah (2012), Beliau menyimpulkan bahwa ” Idul Adha mengikuti Hari Arafah adalah Syariat Allah yang Membawa Kesatuan Umat.”

Fatwa Darul Ifta’ al-Mish riyah, 26 Maret 2005, (No.724) bahwa : Ketentuan Wukuf di Arafah seyogyanya diikuti dalam Penentuan Hari Idul Adha.

Demikian pula Fatwa Lajnah Da’imah Arab Saudi No.4052 : “Hari Arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah” (Fatawa 10/393).

Dalam Kitab Sunan Abu Daud hal.278 dari Husain bin Harits al-Jadaliy (dari Jadilah Qais) dia berkata :
ان أمير مكة خطب ثم قال : عهد إلينا رسول الله أن ننسك للرؤية ، فإن لم نره و شهد شاهدا عدل نسكنا بشهادتهما
Amir (penguasa) Makkah (Al-Harits bin Hathib) berkhutbah, kemudian dia berkata : bahwasanya Rasulullah saw berpesan kepada kita menjalankan manasik haji berdasarkan Rukyat Hilal. Jika kita tidak melihat bulan, dan kemudian datang dua orang saksi yang adil bersaksi bahwa keduanya telah melihat bulan, maka kita akan menjalankan manasik haji berdasarkan kesaksiany keduanya” (HR.Abu Daud, Hadits No.2338.)

Hadits Rasulullah saw ini sudah cukup menjadi bukti bahwa ada tuntunan langsung dari Rasulullah saw berkaitan dengan otoritas penentuan Hari Wukuf di Arafah.

Beberapa fatwa para Ulama, sengaja dikutip dalam tulisan ini, meskipun fatwa mereka lebih bersifat himbauan dan anjuran, selain ditujukan kepada seluruh kaum muslimin, wa bil khusus kepada para penguasa muslim di negrinya masing-masing. Mengingatkan kepada mereka akan kesepakatan OKII di Istambul Turki Th 1978.

Indonesia sebagai salah satu negara anggota OKII semestinya mensponsori dihidupkan kembali semangat kebersamaan dan persatuan ini walaupun hanya dalam bentuk ibadah ritual.

Memang banyak tantangan menuju jalan ke surga tetapi Allah Azza Wa Jalla tak pernah diam membiarkan agama-Nya menjadi permainan orang-orang yang tidak suka.

“Mereka hendak memadamkan cahaya (Agama) Allah, dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya walapun orang-orang kafir itu tidak suka (QS.9:32 )”
Yaum Tarwiyah


8 Dzulhijjah 1443H.