• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 200,833 akses
  • Goh Gallery

  • Arsip

  • Aha…

    IP
  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Momentum pada Isra’ dan Mi’raj

Seri mengaji musalla alitisham, 1juni2014, ust syukron makmun.

Makna surah al isra’ :
disebut nama surat isra krn ayat pertamanya ttg isra, sdg ttg mi’raj lebih banyak di hadits.
Surah Al isra’ isinya ttg kandungan quran dan implementasinya dlm kehidupan (berbakti kpd orgtua, pos2 harta, shodaqoh, bisnis itu jgn mencurangi timbangan…)
ada juga tentang keruntuhan ummat (durhaka hidupnya) dan kunci membangun peradaban.
rumah tangga tdk ada sekolahnya padahal semua org akan mengalami, tp dlm quran ada tuntunan jelasnya mulai dari mencari pasangan, menikahnya, ttg pendidikan anak2nya, sampai tua dan wafat ada soal warisnya.

——-
ISRA’
——-

Momentum pada isra’ :
1. Pertemuan rasulullah dgn nabi2 sebelumnya. reuni akbar para pengemban risalah, nabi saw menjadi imam sbg transfer / estafet / peralihan risalah dan sekaligus penegasan bahwa muhammad adalah nabi terakhir dan pengakuan para nabi ( isa, musa, ibrahim, …) sbg penutup risalah.

2- Peralihan amanah kitab suci setelah nabi musa berupa taurat kepada bani israel, utk dijaga tp mrk malah berbuat kejahatan besar : membunuh para nabi dan mengubah2 kitab sucinya. akhirnya dihinakan oleh Allah dan dihancurkan. amanah tersebut kemudian dialihkan kpd ummat Muhammad.

3- Mulai isra’ itu diawali di masjid dan diakhiri di masjid juga (minal masjid ilal masjid) menunjukkan pentingnya masjid. kejadiannya sendiri adalah hiburan Allah kpd nabi yg mengalami tahun kesedihan.

masjid multifungsi zaman nabi SAW :
-universitas sahabat unggul
-mahkamah hukum yg adil
-majelis permusyawaratan yg memberi solusi kehidupan sosial. jumatan sbg medianya.
- dsb.

struktur keberadaan masjid sekarang cukup lengkap di semua lini, masjid negara, masjid propinsi, masjid kota/kabupaten, masjid kecamatan, masjid jami kelurahan, masjid masyarakat / RT-RW ( mushalla).

isra’ adalah tuntunan bahwa setiap perjalanan yg dilakukan hamba Allah HARUS melalui masjid karena ada JAMINAN keberkahan Allah di dalamnya (baik bagi masyarakat sekitarnya maupun pengelola masjidnya).
negara2 yg dilewati perjalanan isra’ nabi saw penuh keberkahan. negara2 hijaj yg tandus yg penuh kebodohan yg tdk sedikitpun dilirik oleh dua peradaban besar imperium romawi dan persia saat itu, bertranformasi jadi peradaban baru. mewujudkan doa nabi Ibrahim yg meminta kesejahteraan beberapa dekade sebelumnya.

4- Isra’ adalah perjalanan hamba menuju sang pencipta yaitu Allah.
Kemuliaan dan kehormatan adalah krn kedekatan dgn Allah sang pemilik kehormatan. sedangkan dunia spt harta, jabatan, keturunan dapat mendorong ke kehinaan.
Ilustrasi karpet masjid dan karpet istana negara, karpet masjid yg murah, keras lebih dimuliakan manusia ; melepas alas kakinya, menaruh kepalanya di sana (bersujud). karpet istana yg mahal, empuk, mewah tetap saja tdk istimewa.
Hijr Ismail (pemangku Ismail), seorang budak wanita hitam bernama Hajar menjadi mulia krn kedekatannya dgn Allah.

——-
MI’RAJ
——-

1- Mi’raj adalah solusi Allah bagi kehidupan manusia yaitu diturunkannya shalat sebagai induknya ibadah.
Mempelajari shalat haruslah dilakukan secara holistik dengan melihat 2 sisi :
1- ilmu syariat : mengenai syarat sahnya shalat.
2- ilmu hakikat : mengenai kualitas syarat diterimanya shalat oleh Allah, serta efek shalat kepada pribadi dan masyarakat.

Pesan nabi, “shalatlah sebagaimana aku shalat”.

tema2 besar mendalami shalat :
- sejarah shalat : Isra mi’raj dan memahami nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW.
- bacaan
- gerakan
- panggilan shalat (adzan)
- memahami kemanusiaan : tentang nafs (jiwa), struktur lengkap yg terdiri dari ruh, akal dan syahwat yang jenisnya ada 3 macam yaitu :
a- Lawwamah : manusiawi
b- amaroh : cenderung kepada keburukan.
c- mutmainnah : cenderung kepada kebaikan.
pemahaman kemanusiaan ini terkait dengan tarbiyyah ruhiyah, fikriyyah dn jasadiyyah oleh ibadah2 (shalat, dzikir, riadhoh, …).

2- Mi’raj adalah ‘wisuda’ syariat nabi Muhammad yg menjadi intisari dari seluruh syariat2 dari nabi2 sebelumnya, dikompresi dan dipadatkan agar dapat dilaksanakan dengan mudah dan tidak memberatkan.
Qs. 2:286 – jaminan dapat dikerjakan oleh ummat Muhammad.
Hadits – dua rakaat shalat shubuh ummat manusia, lebih hebat dari shalat 1000 rakaat malaikat. Maha adilnya Allah pada manusia yang mendapat 2 tantangan yaitu internal (jiwanya, nafs) dan eksternal (rayuan syetan).

3- Mi’raj adalah manifes cinta nabi Muhammad kepada ummatnya.
-saat nabi diberi salam penghormatan oleh jibril dengan “Assalamu alaika ayyuhannabiyyu…” beliau tidak menjawabnya, lalu bertanya, “bagaimana salam bagi ummatku?”. Maka kemudian diilhamkan Allah agar jibril menambahkan “Assalamu alaina  wa ‘ala ibadillahis shoolihin…” di sini, bagi ummatnya yg beribadah dan beramal sholeh akan mendapatkan rahmat dan barokah sebagaimana yg didapatkan baginda Rosul SAW.
Qs. 33:36 – maka sdh sepantasnya kita sbg ummat yg amat diperhatikan dan dicintai nabi SAW, memperbanyak shalawat kepadanya, sbg bentuk cinta kita kepada beliau.

Wallahu a’lam.

Jangan lupa sholat, sahabat…

Banyaknya kegiatan, atau mencoba berdisiplin waktu kala bertransportasi di jalan-jalan perancis, serta cuaca yang ekstrim tentunya bukan alasan untuk lalai dari kewajiban pribadi seorang Muslim untuk Tuhannya.

Sahabat, beginilah rutinitas kehidupan pelajar peneliti seperti kami ini ; setiap jam 9 pagi pergi ke laboraturium untuk bekerja, lalu istirahat sekitar satu setengah jam untuk makan siang, lalu pekerjaan hari itu selesai antara pukul 17 atau 18. Jika perlu beli sesuatu untuk keperluan rumah seperti bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya, maka perjalanan dilanjutkan dulu ke super marche terdekat. Untuk ini kami membutuhkan paling lama satu setengah jam. Berhubung kami pun kadangkala harus menyesuaikan dengan jadwal bus kota, maka tambahlah lagi waktu perjalanan kami paling lama setengah jam lagi, karena seringkali pula kami ketinggalan jadwal bus sehingga harus menunggu sepuluh sampai lima belas menit lagi untuk setiap bis yang harus kami naiki.

Atau kalau cuaca ‘sedang bagus’, jalan kaki juga suatu yang kadangkala kami pilih. Yah, sambil bermandikan cahaya matahari kami menggendong belanjaan di tas kami atau kalau sedang banyak-banyaknya kebutuhan yang perlu dibeli, maka kami tambah pula kantong tas belanja di dua tangan kami. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki biasanya antara 20 sampai 30 menit.

Dari uraian di atas, dalam periode sibuk tersebut terselip 3 waktu sholat, yaitu dzuhur, ashar dan maghrib.

Pada musim dingin, jarak antara dzuhur dan ashar cukup dekat namun tetap saja waktu dzuhur dimulai pada menjelang akhir waktu istirahat makan siang. So, biasanya kami disini selalu makan siang dahulu, lalu cepat-cepat mencari tempat untuk sholat sebelum teman-teman lainnya kembali ke laboraturium. Atau, alternatif skenario yang lebih nyaman bagiku yaitu kembali ke apartemen (sekitar 8 menit jalan kaki menembus dingin… brr!), kemudian masak dan makan, setelah itu sholat, lalu kembali ke lab agak terlambat sekitar 30 menit dari waktu istirahat. Continue reading

Aduh, gimana ya sholat berjamaah kita?

Pada beberapa sholat berjamaah maupun sholat jumat di bulan Ramadhan ini, saya punya hobi baru. Mudah-mudahan ini positif, karena Insya Allah dilandasi oleh niat baik saya ingin mencoba menikmati sholat berjamaah bersama saudara-saudara muslim lainnya di masjid-masjid lingkungan mereka. Yah… hobi baru ini adalah melakukan sholat berjamaah, terutama sholat-sholat siang hari di masjid-masjid yang bisa tercapai dengan kendaraan sederhana saya.

Khusus untuk sholat Jumat, perkenankan saya mengungkapkan rasa bahagia saya, karena rata-rata 30 menit sebelum waktu jumat masuk, masyarakat sudah berbondong-bondong datang di masjid. Wajah-wajah mereka segar, baju-baju mereka kelihatannya yang terbaik, mereka yang para buruh, manajer, serta tak jarang pedagang asongan beserta dagangannya pun ikut mampir di masjid, lalu memenuhi ruang-ruang berwudhu, setelah itu sholat sunat lalu siap-siap menyambut tibanya waktu sholat. Rata-rata ritual awal persiapan jumat di masjid-masjid adalah tilawah quran, namun di beberapa masjid mengisinya dengan shalawat nabi. Alhamdulillah, walau pun tilawah maupun shalawatnya baru keluar dari kaset, namun InsyaAllah pendengat dan pemerhatinya sudah mendapat pahala.

Saat saya mulai melaksanakan sholat sunat tahiyatul masjid, mulailah berseliweran orang-orang yang ingin mendapat duduk di shaf depan. Mereka ini nampaknya punya hobi melangkahi pundak saudara-saudara mereka, dan seringkali lupa untuk melintasi bagian depan dari orang-orang yang sedang sholat sunat. Ada yang dengan gaya merunduk permisi, ada yang bahkan cuek saja. Entah karena mereka tidak tahu konsekuensi melintas di depan orang sholat atau justru mereka tahu tapi tidak peduli. Hingga beberapa kali dalam sholat sunat itu saya menyetop mereka agar tidak melintas di depan saya. Hal ini adalah hal pertama yang membuat saya mengelus dada mengenai pemahaman tata krama berjamaah masyarakat.

Yang kedua, saat memulai sholat. Beberapa imam memang melihat shaf makmumnya terlebih dahulu secara selintas, lalu berkata luruskan shaf. Namun agaknya cuma formalitas saja. Sebab makmumnya tetap saja tidak berubah shafnya. Betapa hadits nabi tentang siapa yang meluruskan shaf akan disambungkan rahmatNya itu tidak digubris baik oleh imam maupun kebanyakan makmumnya. Bahkan saya yang mencoba menarik bapak di samping saya untuk merapat ke tengah, beliau tidak bergeming sedikit pun. Nampaknya bapak di sebelah saya ini lebih menikmati kesendirian pada karpet panjang masjid yang sudah di ‘ bagi-bagi’ seakan-akan per satu orang per satu sajadah. Masya Allah, hati ini tambah terenyuh…

Yang ketiga, ketika membaca bacaan sholat. Imam membaca alfatihah dan surat Quran benar-benar fasih dan tartil. Seakan lagu yang menyejukkan, membuat hati ini menjadi tentram. Namun begitu ruku’, i’tidal, dua sujud dan duduk, entah bagaimana bacaan imam. Yang jelas, ketika saya belum selesai membaca bacaan ruku’ yang pertama, imam sudah i’tidal dan ketika saya baru bangun i’tidal, imam sudah sujud, dan begitu seterusnya. Rupanya terjadi kejar-kejaran antara imam dan makmum sangat cepat sekali, seperti perlombaan formula satu :-( Hati ini semakin terenyuh saja…

Yang keempat, dzikir setelah sholat. Saya menyaksikan, bahwa dzikir yang dilakukan kebanyakan masyarakat seringkali lebih lama waktunya dari sholat itu sendiri. Kalau saya mau coba mengibaratkan, saat online / bertemu langsung dengan Allah (saat sholat) dzikir & doanya secepat kilat, tapi pas sudah tidak bertemu (selesai sholat) baru mereka dzikirnya khusyu’ sekali. Bahkan masih belum puas, pakai pengeras suara lagi! Setahu saya, sholat itu adalah Dzikrul akbar , tentunya di dalamnya kita seharusnya mengisinya dengan dzikir&doa yang khusyu’ dan tidak terburu-buru seperti yang saya alami ini. Ada pun setelah sholat, kita mengikuti dzikir Al Ma’tsurat yang dicontohkan oleh Rasul. Prinsipnya jangan sampai dzikir setelah sholat itu justru malah menganggu orang-orang yang terlambat sholat, atau yang sedang sholat sunat. kesedihan saya ini mulai bergemuruh jadi kemarahan…. tapi Audzubillahiminassyaitonirrojim. Kemarahan akan merusak shaum, dan masalah pada jamaah tidak bisa selesai hanya dengan amarah. Aku berlindung kepada Allah dari Syetan yang terkutuk.

Jadi bagaimana solusi untuk masalah-masalah berjamaah ini? ya perlu ada edukasi dari para imam dan pengurus masjid untuk jamaahnya. Rasanya bisa saja kita terapkan sebelum sholat jumat atau sholat-sholat berjamaah lainnya dimulai, ada pengumuman tata krama berjamaah kepada seluruh jamaah lewat pengeras suara, atau perlu juga di mading-mading masjid ada tuntunan-tuntunan berjamaah dalam bentuk poster / visual agar bisa dibaca oleh jamaah.

Mungkin ada yang berminat berkampanye poster tata cara berjamaah untuk bisa ditempel di mading-mading masjid / musalla ?

Cukupkah mengerjakan Rukun Sholat saja ?

Selama ini tentu kita semua sudah hafal di luar kepala, bahkan Insya Allah sudah melaksanakan 13 rukun sholat yang dimulai dari niat, lalu takbiratul ihram dan diakhiri dengan tertib itu. Pertanyaannya sekarang, apakah yang rukun itu sudah cukup untuk meningkatkan kualitas sholat kita sehingga kita mendapat manfaat yang besar dari sholat yg kita kerjakan? atau kita masih seperti biasanya, STMJ (=Sholat terus maksiat jalan – meminjam istilah Ust Sambo).

Kemarin saat mengikuti suatu pengajian, aku terhenyak. karena ternyata banyak sekali yang hukumnya sunat (atau sunnah) dalam ritual sholat yang sering tidak kita perhatikan, karena perhatian kita cuma memenuhi yang rukun-rukun-nya saja. Mungkin sekarang harus kita sedikit modifikasi paradigma berfikir kita tentang yang sunat. Selama ini kita berpegang pada defenisi bahwa yang sunat itu adalah bila dikerjakan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak apa-apa. Tapi nampaknya defenisinya tidak cukup disitu kalau dilihat dari sisi aqidah. Sholat yang tidak memberi pengaruh apa-apa kepada kita mungkin karena sholat dalam kepala kita, dilaksanakan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, sehingga cukup yang rukun2nya saja dikerjakan. bahkan dalam banyak kasus, rukun2nya itu pun tidak sempurna dilaksanakannya, baik tidak sempurna dalam gerakan, bahkan seringpula terlalu cepat dalam bacaan, sehingga tanpa sedikit pun perenungan sempat kita laksanakan dalam sholat.

Nah, tentu sholat yang seharusnya (seperti yang telah Allah janjikan dalam Quran – sholat mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar, atau seperti yang dikabarkan Nabi bahwa, sholat adalah amalan kunci, jika sholat benar, maka benar pula semua amalannya), bukan sekedar dilakukan untuk menggugurkan kewajiban, tapi dari sisi kita manusia yang hamba lemah ini, harus ditanamkan bahwa sholat adalah kebutuhan kita terhadap ALLAH! Artinya dalam pelaksanaan sholat, agar tercapai kesempurnaan makna, kita tidak hanya sekedar melaksanakan yang rukun-rukunnya saja, tapi juga termasuk sunat-sunat sholat.

Paradigma makna sunat mungkin ada baiknya diganti dengan defenisi ; sesuatu yang jika dikerjakan kita akan dicintai oleh Allah, dan bila tidak dikerjakan Allah hanya memandang kita biasa-biasa saja. Defenisi ini mengingat firman Allah, bahwa Allah adalah menurut prasangkaan hamba-hambaNYA. Dengan melaksanakan sunat-sunat sholat diharapkan kita sebagai hamba memberikan perhatian yang lebih terhadap apa yang kita persembahkan kepada sang Khaliq. Walaupun hakikatnya Allah tidak butuh semua ritual itu, namun Insya Allah manfaatnya akan kembali ke kita juga, yaitu kecintaan dari ALLAH SWT.

Beberapa sunnat2 sholat antara lain :

  1. berdiri dengan kaki lurus menghadap kiblat
  2. meluruskan punggung ketika ruku’ dan sujud
  3. membaca doa iftitah dan surat dalam Alqur’an
  4. membaca bacaan ruku’ dan sujud lebih dari 3x (bahkan sebanyak-banyaknya yang kita mampu)
  5. Memperbanyak berdoa ketika sujud
  6. Berdoa ketika berdiri i’tidal terakhir dan sebelum salam.
  7. melakukan gerakan dan bacaan takbir intiqal, yaitu ketika mau ruku’, ketika i’tidal, dan ketika bangun dari rokaat kedua.
  8. menegakkan kaki ketika duduk tasyahud awal dan duduk tasyahud akhir (tawarruk).
  9. dan lain-lain (dapat dilihat dalam kitab Bukhari Muslim bab sholat)
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.