• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 190,507 akses
  • Goh Gallery

  • Arsip

  • Aha…

    IP
  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Petualangan di Itali (Bag. 3)

2. Dari Dermaga air ke Dermaga

Petualangan di venisia selanjutnya adalah menikmati kendaraan air dari dermaga ke dermaga yang dilewatinya. Kalau mau dihitung satu-satu, dermaga yang digunakan sebagai terminal perhentian bus air (vaporetto) yang ada di Grand Canal Venisia terdapat sekitar sembilan belas sampai duapuluhan dermaga. Selepas itu bus air masih melanjutkan perjalanannya sampai ke atol (pulau kecil) Lido, melewati sekitar 7-9 dermaga perhentian lagi. Itu tidak termasuk dengan dermaga-dermaga pribadi dari rumah-rumah yang ada di sepanjang canal grande, kalau kita analogikan di daratan, dermaga untuk bus air ini sama dengan halte bus, lalu dermaga2 pribadi itu seperti tempat parkir dari gedung2. Apalagi kalau ditambah dengan dermaga-dermaga untuk perahu kecil seperti Gondola atau sampan, yang umumnya terdiri dari tonggak-tonggak kayu disusun membentuk segi empat. Kagak terhitung deh…

Nah, pada tiap dermaga vaporetto umumnya terdapat dua tempat perhentian. Sahabat harus berhati-hati agar tidak salah naik vaporetto, jangan sampai naik ke arah yang sebaliknya dari tujuan. Untuk itu selalu lihatlah tanda penunjuk arah yang ada di setiap tempat perhentian tersebut.

Dalam petualangan kami ini, sempat terjadi hal yang tak terduga, saat pertama kali kami naik Vaporetto, sebagian dari kami menyangka bahwa tempat perhentian itu adalah bus airnya. Karena, dari bentuknya, memang sudah seperti bentuk kapal feri kecil yang bisa dilihat di tanah air. ketika bus airnya datang, beberapa orang langsung bergumam, “pantesan dari tadi kagak jalan2, taunya ini cuma darmaga doang….”. he he he, begitulah kalau orang kampung jalan-jalan.

Untuk beli tiket (biglietto) vaporetto bisa di terminal2 paling ujung atau dermaga2 besar. Selain itu juga dapat ditemukan di toko2 tabac (warung rokok) tertentu. Jangan lupa sebelum naik ke vaporetto, tiketnya harus di compose ke sebuah alat yang ada di depan pintu masuk dermaga, sama seperti yg harus selalu kami lakukan kalau naik bus atau metro di Eropa. Harga tiketnya sendiri (tahun 2010 ini), 6.5 euro untuk sekali naik (cukup mahal juga…). Tapi jangan kawatir, karena tiket untuk setengah hari atau untuk satu hari penuh juga ditawarkan kok. Kami yang punya waktu 8 jam di kota ini, membeli tiket yang 12 jam dengan harga 16 euro.

Apa yang menarik dalam petualangan ini ? wuah, banyak sekali. Ada orang naik kano pakai baju viking, dan ketika kami teriaki untuk di foto, dia segera menaruh dayungnya dan mengeluarkan pedangnya, dan bergaya. Ada juga serombongan wanita pakai topeng dan kostum abad pertengahan naik gondola, melaju perlahan dengan anggun. Beberapa yg sempat kami abadikan dapat dilihat di bawah ini…

Salah satu Percabangan air

Naik Gondola

Tempat parkir perahu

Foto2 lainnya ada di TuanSUFI Gallery – Venice 2010

Dalam petualangan ini, kami naik bus air mulai dari dermaga paling ujung, sampai ke dermaga ujung sisi lainnya. Posisinya pun kami coba beberapa kombinasi : berada di depan kapal dekat nakhoda, atau duduk bersama penumpang lainnya di dalam, sampai duduk di buritan belakang kapal. Total perjalanan dari ujung ke ujung memakan waktu sekitar 50 menit. Di salah satu ujung yaitu kepulauan Lido, kami sempat turun sebentar, sambil melihat di kejauhan ada bangunan dengan kubah besar yang ternyata adalah sacrario militare. Tapi karena keterbatasan waktu, kami tidak menjelajahi pulau Lido ini lebih jauh.

3. Dari Lorong ke Lorong Venisia

Yang tak kalah menarik perjalanan di Venisia ini adalah berkeliling kota diantara bangunan2 tinggi yang rapat satu sama lain. Antara satu blok dengan satu blok lainnya,  biasanya dihubungkan dengan jembatan2 khas yang melengkung dibagian tengahnya membentuk setengah lingkaran. Jembatan2 kecil ini tetap memungkinkan perahu2 kecil, sampan ataupun gondola tetap bisa lewat di bawahnya.

Perjalanan kami mulai di  area San Marco sebagai pusat acara karnaval pesta topeng. Konon, di salah satu pojok tempat ini, waktu diduduki Perancis tahun 1700-an, Napoleon membuat rumah tinggalnya. Begitu kami turun dari vaporetto, suasana penuh orang langsung mengepung. Di sepanjang jalan menuju Piazza san marco penuh dengan pedagang aksesoris yang banyak menjual topeng khas venisia. Jika tertarik, topeng2 tersebut dapat dibeli dengan merogoh paling sedikit 5 euro. Aku dan Ruddy lebih tertarik dengan topi bajak laut seperti yang dipakai oleh jack sparrow. Awalnya mereka menawarkan 20 euro, namun setelah berkeliling, kami mendapatkannya seharga 12 euro saja.

Di jembatan yang menghubungkan antara blok san marco dengan blok lainnya di sebelah timur, kami menemukan terminal gondola. Nama tempatnya Giglio. Semua harga sewa gondola, sekitar 80 euro. Di tawar2 pun tetap saja mereka kasih 20 euro per orang saja. So, lain kali aja deh…  atau naik sampan di sungai musi Palembang aja kali ya… :)

Setelah puas berkeliling di lorong-lorong sekitar san marco, kami kemudian naik vaporetto menuju Basilica Santa maria della salute yang berada di seberang San Marco. Kemudian kami pun melanjutkan menyusuri lorong-lorong perumahan tua di sisi lain dari kota ini. Sesekali di persimpangan lorong2, kami temukan pengamen2 ala itali seperti yang biasa kita temukan di film2 barat zaman dulu, bergitar atau main biola dan pakai topi dan ada pita merah panjang di belakangnya. Kami berjalan sampai bertemu jembatan de l’academia. Betul-betul cuma ada dua jalur akses, yaitu akses jalan kaki dan akses perahu. Nuansanya sepi sekali, karena jarak antar gedung yang sangat dekat, maka derap langkah kami dapat didengar dengan jelas.

Waktu magrib yang hampir menjelang, membuat kami kasak-kusuk mencari tempat sholat. Situasi yang ramai membuat kami kesulitan untuk bisa begitu saja bersujud di pojok2 Venisia. Namun Alhamdulillah, setelah menyebrangi jembatan de l’academia kami menemukan tempat di halaman sekolah seni di Campo Steppano, tak jauh dari gedung Palazzo Cavalli Franchetti. Tempatnya terlindung tanaman, dan bukan merupakan jalur jalan kaki. Jadilah kami menjama’ dzuhur dan ashar di sana, sambil ditemani tatap2 heran dari mahasiswa seni di sekitar kami…  sepertinya mereka takjub melihat ‘seni gerak dan seni suara’ Ilahiyah yang kami peragakan.

Menjelang pukul 19 malam, kami naik vaporetto ke jembatan Rialto dan meneruskan petualangan di lorong2 sekitar tempat ini. Suasananya mirip di marioboro, yogyakarta, namun jalannya lebih lebar, belanja ala windows shopping antara dua gedung yang berhadap-hadapan, di tengah jalannya banyak kaki lima jual macam-macam. Mata kami dimanjakan dengan pernak-pernik souvenir yang beranekaragam. Jika tidak hati-hati, kita bisa aja membawa barang made in china di sini. Sambil bergerak pelan2 dan sesekali mampir, kami menyeberangi jembatan Rialto untuk mencari dermaga bus air yang menuju ke Lido. Di sepanjang pinggir dermaga, berjajar restoran yang menawarkan pizza dan berbagai makanan khas itali lainnya, termasuk makanan hasil laut. Tapi keremangan malam, membuat kami ‘tersesat’ di sekitar Chiesa di S. Silvestro. Berputar2 sekitar 20 menit mencari dermaga palazzo papadopoli dan syukurlah pada akhirnya ketemu juga. Cukuplah dulu petualang di lorong2 Venice kali ini.

4. Kuliner Venice

Sempitnya waktu membuat kami tidak terlalu memperhatikan petualangan di bidang kuliner ini. Makanan hanyalah sebagai syarat agar daya jelajah kami bisa semakin luas, sehingga masalah tempat atau feel -nya tidak terlalu diperhatikan.

Makan siang yang hampir terlewat, kalau saja perut ini bisa di ajak kompromi, kami lakukan di San Marco, itu juga cuma beli american sandwich ikan saja, dan dimakan sambil bersandar di salah satu tiang. Suasana saat itu penuh manusia di mana2. Sampai burung2 yang umumnya berada di situ tidak kelihatan satupun.

Makan malam kami lakukan setelah kami sholat jama’  takhir dzuhur ashar. Tempatnya di campo stefano. Makan kali ini lebih serius, kami memesan makanan khas venisia yaitu Spaghetti cuttlefish sebagai premier dish. Dijamin, hitam mulutnya, karena cumi2 tersebut disiramkan bersama tinta2nya di atas spaghetti. Lalu secondary dish-nya udang dan calamar goreng dengan salad. Enak…

Terakhir, sebelum kami bertolak meninggalkan Venisia menuju roma, di stasiun Santa Lucia, kami mencoba pizza mozarella. Cukup satu potong saja sebagai pengganjal perut sebelum tidur di kereta, hangat2 dari oven ; Terasa khas sekali kejunya. Menutup petualangan hari ini.

Addio Venezia, Benvenuti a Roma…

(Bersambung)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: