• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 203,893 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • Aha…

    IP
  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Petualangan di Itali (Bag. 2)

Bagian 2 : Venesia, Kota Air

Kelelahan perjalanan 12 jam dengan bus Eurolines seakan terhapus ketika bus berangkat dari terminal Mestre ; daratan Eropa terakhir yang kami singgahi. Jembatan panjang dengan tayangan indah biru laut di kiri dan kanan kami menyapu setiap kepenatan dan mengubahnya menjadi rasa penasaran! bagaimana ya bentuknya kota tua Venisia yang berada di atas air yang akan segera kami datangi ini.

Dalam 20 menit, bus memasuki Piazzale Roma, terminal bus dan tempat parkir bagi kendaraan darat. Dari batas tempat inilah, kendaraan resmi yang boleh dinaiki — selain kaki kita — adalah perahu. Terbayang sekilas, suatu kota penuh dengan hiruk pikuk pejalan kaki, tapi sepi sama sekali dari deru mesin motor dan mobil.  Mantap juga kan..?  Sambil menikmati hijaunya air, kami menuju dermaga bus air (Vaporetto) yang berada di jalan Fondamenta Santa Chiara. Selain kami melihat dermaga Vaporetto, kami juga melihat dermaga khusus taksi air dan gondola tak jauh dari sana. Menarik sekali.., subhanallah, mendapat kesempatan melihat keanekaragaman lagi cara hidup orang2 yang dikelilingi oleh air.

Sesuai dengan yang kami rencanakan, perjalanan di kota Venisia ini adalah mengarungi Canal Grande (Kanal besar) yang membelah kota, dan melihat-lihat tempat2 monumental yang ada di sekitarnya. Waktu yang hanya 8 jam ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjelajah kota kepulauan (atol) yang tidak terlalu besar ini. Ayo Kita mulai….

1. Dari jembatan Ke Jembatan

Canal Grande Venisia terdiri dari dua belokan besar, di belokan pertama terdapat jembatan legendaris yang bernama Rialto. Lalu di belokan kedua juga terdapat jembatan yang tak kalah terkenal yaitu jembatan de l’academia. Dua jembatan bersejarah ini ternyata ditambah lagi dengan 2 jembatan yang dibuat berdasarkan fungsi strategis tertentu, sehingga total di sepanjang kanal ini terdapat 4 buah jembatan, dan inilah hasil pengamatan kami…

Petualangan mengarungi canal grande Venice dimulai dengan naik Vaporetto melewati bawah jembatan Ponte della Costituzione atau ponte di Calatrava. Inilah jembatan paling terakhir yang dibangun di Grand Canal, dirancang oleh Santiago Calatrava dan mulai dibuka untuk umum tahun 2008. jembatan ini terletak di tempat sangat strategis, menghubungkan stasiun kereta api (Stazione Santa Lucia) dengan Roma Piazzale (yaitu titik kedatangan kendaraan mobil/bus di Venisia), membuat jembatan ini punya dua fokus fungsional dan simbolis, yaitu menghubungkan pengunjung yang baru tiba dengan wilayah kota air venisia sekaligus menyambut mereka menikmati panorama Grand Canal saat berada di atasnya. Menurut yang aku baca, pembangunan jembatan ini diiringi kontroversi yang tidak sedap. Pertama, karena desainnya ngga nyambung dengan dekoratif abad pertengahan kota venisia (terlalu modern dan minimalis), lalu juga strukturnya sangat tidak nyaman untuk orang tua dan orang cacat yang menggunakan kursi roda. Baru tahun ini (2010), akhirnya pemerintah Venisia membangun lift berbentuk kepompong untuk membantu orang2 yang kesulitan tersebut.

Terus terang, IMHO alias pendapat pribadi nih… Jembatan ini emang terlalu dekat sekali dengan terminal bus air.  Sehingga bagiku – ‘pengunjung lugu’ yang baru datang ini, cuma melihat sekilas saja ke jembatan ini, malas naik karena tangganya agak curam dan ketertarikan naik perahu langsung mengalahkan ketertarikan naik jembatan. Emang salah tempat dan salah desain rupanya.. pantesan ada kontroversi.

Setelah itu, Vaporetto yang kami naiki kemudian melewati Ponte Degli Scalzi. Ini adalah jembatan yang digunakan untuk menyeberangi grand canal dari Chiesa degli Scalzi (church of the barefoot) menuju stasiun besar (Grandi Stazioni) Santa Lucia. Desainnya oleh Eugenio Miozzi, dan mulai digunakan pada tahun 1934. Jembatan ini dibuat untuk menggantikan jembatan besi Austria yang rusak, dan digunakan sebagai akses utama stasiun kereta.

Kami di sini cuma lewat saja, tidak sempat menikmatinya. Saat malam hari ketika hendak bertolak meninggalkan kota ini pun kami hanya melihatnya dari kejauhan. Tapi kesanku, jembatan ini adalah jembatan yang ketiga teramai setelah Rialto dan de l’academia.

Sekitar 5 menit perjalanan dengan Vaporetto dari jembatan sebelumnya, kami melewati jembatan Ponte di Rialto. Dulu jembatan ini dibangun pertama kali pada 1181 oleh Nicolò Barattieri. Awalnya dinamakan Ponte della Moneta. Tahun 1255 jembatan diganti menjadi jembatan kayu bagian tengahnya yang bisa mengangkat, sehingga memungkinkan kapal besar untuk lewat. Karena tempat ini menjadi sedemikian ramainya, maka mulailah dibangun toko-toko di sepanjang dua sisi jembatan. Nah saat inilah namanya diganti menjadi Rialto. Pada tahun 1310 dibakar sebagian dalam pemberontakan Bajamonte Tiepolo, kemudian Pada 1444 juga sempat runtuh karena tidak tahan menyangga beratnya orang2 yang sedang menonton parade perahu. Gagasan membangun jembatan batu pertama kali diusulkan di tahun 1503. dalam beberapa puluh tahun beberapa kali dilakukan pembangunan, namun belum cocok, walau pun dibuat oleh arsitek2 terkenal pada waktu itu. Baru ketika rancangan jembatan batu yang dibuat oleh Antonio da Ponte, direalisasikan dan  selesai dibangun pada tahun 1591. Strukturnya mirip dengan jembatan kayu, Di kedua sisi serambi yang landai dibangun deretan toko-toko. Sampai kini, jembatan ini masih dipelihara dengan baik oleh pemerintah Venisia.

Disinilah kami lihat geliat ekonomi di Venisia. Toko souvenir dari yang termewah sampai yang kaki lima dapat ditemui di sini. Di lorong-lorong kota, sahabat bahkan bisa tawar menawar untuk membeli souvenir. Alhamdulillah, di pertengahan jembatan (di atas kanal), aku menemukan toko kulit yang menjual tas, dompet dan kerajinan dari kulit. Senangnya bisa membelikan sesuatu untuk istriku. Selain itu, di sekitar jembatan Rialto banyak sekali restoran makan atau sekedar bar untuk minum-minum. Menurut informasi yang kami terima, bagi backpacker yang punya ongkos sedikit, tidak direkomendasikan untuk makan di sini, karena harganya cukup mahal. Yah, sambil berkeliling kami coba melihat-lihat, memang betul resto2 yang berada di jembatan memasang tarif yang tinggi, tapi resto2 yang ada di pinggir2 sungai dekat Rialto, harganya kompetitif, mulai dari 15 euro-an sekali makan… harga umum di eropa. Ini bisa diserbu bleh

Yang terakhir yaitu mendekati ujung canal grande, kami melewati   Ponte de l ‘Academia, menurut sejarahnya, jembatan ini pertama kali direncanakan untuk dibangun pada awal 1488, tetapi baru direalisasikan pada tahun 1854. Struktur bajanya dirancang oleh Alfred Neville, namun sempat dihancurkan dan diganti dengan jembatan kayu di tahun 1930-an. Setelah berpuluh2 tahun kemudian, jembatan ini dihancurkan kembali dan dibuat lagi dengan konstruksi yang sama, pada tahun 1985, sampai yang kami lihat hari ini.

Di tempat ini, kita bisa melihat jauh birunya laut. Memang masih di dalam gugusan kepulauan, namun pemandangan yang lepas, penuh burung camar dan aktivitas perahu sangatlah membawa rasa tenang. Pemandangan gedung2 tua bertingkat dengan bentuk jendela dan pintu abad pertengahan menambah cantik panorama ini. Tak heran, di jembatan ini selalu penuh orang yang berhenti sejenak menikmati keindahan lautnya.

(Bersambung)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: